A. Pendahuluan

Seiring dengan berjalannya waktu, kegiatan transaksi ekonomi berkembang pesat, sehingga bermunculan beragam model transaksi yang tidak dikenal pada masa lalu tapi berkembang dimasa kini. Salah satu diantaranya adalah penggunaan dua akad atau lebih menjadi satu transaksi, yang dalam fiqih kontemporer disebut al-‘uqud al-murakkabah (hybrid contract/multiakad). Multi akad (hybrid contract) adalah kesepakatan dua pihak untuk melaksanakan suatu muamalah yang meliputi dua akad atau lebih, misalnya satu transaksi yang terdiri dari akad jual-beli dan ijarah, akad jual beli dan hibah dan seterusnya, sehingga semua akibat hukum dari akad-akad gabungan itu, serta semua hak dan kewajiban yang ditimbulkannya, dianggap satu kesatuan yang tak dapat dipisah-pisahkan, yang sama kedudukannya dengan akibat-akibat hukum dari satu akad. (Vide: Nazih Hammad, Al-‘Uqud Al-Murakkabah fi al-Fiqh al-Islami, hal. 7; Abdullah al-‘Imrani, Al-Uqud al-Maliyah al-Murakkabah, hal. 46).

Ada sebagian ulama kontemporer yang menilai konsep multi akad bertentangan dengan syariah, karena terdapat nash yang melarang penggabungan beberapa akad dalam satu transaksi, seperti hadis Ibnu Mas’ud ra., ia berkata:

 «نهى رسول الله صلى الله عليه وسلّم عن صفقتين في صفقة واحدة»

Artinya: ”Nabi SAW melarang dua shafqah dalam satu shafqah” (HR Ahmad, Al-Musnad, I/398).

Hadis ini juga dijadikan dasar untuk melarang konsep ta’aluq, yaitu satu akad yang pelaksanaannya tergantung dengan akad yang lain, seperti orang yang berkata: “saya menjual rumah ini, dengan syarat anda menikahkan anak perempuan anda dengan saya”. Atau “saya menjual rumah ini, dengan syarat anda menjual kuda anda kepada saya”. Kedua model akad ini adalah batil, karena akad jual beli rumah tergantung dengan akad yang lain yaitu akad nikah.

Berdasarkan argumentasi diatas, maka sebagian ulama kontemporer melarang semua model dan bentuk transaksi muamalah yang terindikasi ada ’unsur’ multi akad dan ta’aluq. Maka untuk mendapat pemahaman yang tepat atas masalah ini, dibutuhkan kajian untuk memperoleh pemahaman yang sahih terkait dengan larangan Nabi SAW atas 2 shafqah dalam 1 shafqah dan larangan 2 baiah dalam 1 baiah.

 

B. PENDAPAT PARA ULAMA TERKAIT MAKNA BAIATAINI FI BAIATIN

Secara umum para ulama’ sepakat atas larangan baiataini fi baiatin, tetapi mereka masih berbeda pendapat dalam menafsirkankan sebab dilarangnya model transaksi seperti dalam hadis tersebut. Syeikh Nazih Hamad mengemukakan 8 pendapat terkait dengan makna baiataini fi baiatin, sebagai berikut:

1) Pendapat Pertama:

No PENJUAL PEMBELI
1 Saya jual baju ini sepuluh dirham kontan atau duapuluh dirham kredit Ya, saya terima

*  tanpa ada penjelasan harga yang disepakati

Pendapat ini adalah pendapat Imam Malik, Abu Hanifah, Ats-Tsauri, Ishaq, Imam Syafi’i dalam salah satu pendapatnya dan ulama lainnya.

Alasan dilarangnya model jual beli ini:

  • Menurut Imam syafi’I dan Abu Hanifah adalah karena ketidakjelasan harga.
  • Menurut Imam Malik adalah saddu dzari’ah yang dapat menyebabkan riba.
  • Menurut Imam Asy-Syaukani dalam kitab Nailul Author karena tidak jelasnya harga, dan dalam kitab As-Sailu Al-Jarror karena hal itu tidak melepas akad yang akan terjadi (luzum), serta dari ketidaktetapan akad jual beli dan keragu-raguan diantara dua arah.
  • Tetapi Imam Ibn Qoyyim menolak penafsiran seperti ini dan menyebutnya dengan pendapat yang lemah, karena dalam  penafsiran ini tidak ada riba dan tidak ada dua jual beli dalam 1 jual beli. Dan ini pada hakikatnya adalah khiyar (pent- hak opsi) terhadap dua harga yang diinginkan.

2) Pendapat Kedua:

No PENJUAL PEMBELI
2 Juallah peralatan kamu satu dinar atau seharga 1 kambing seperti ini (dijelaskan sifat-sifatnya)sampai akhir bulan ini. Ya, saya terima

*Keduanya (pent- yaitu penjual dan pembeli) saling berpisah, sehingga menyebabkan terjadi akad jual beli dengan salah satu harga yang tidak jelas.

Alasan dilarangnya model jual beli ini:

  • Menurut Qodhi Ibn Arobi adalah karena terdapat gharar (pent- ketidakjelasan) dalam akad jual beli ini, dimana penjual tidak mengetahui harga penjualan yang terjadi.

 

3) Pendapat Ketiga:

No PENJUAL PEMBELI
3 Saya jual kebunku seharga sekian, dengan syarat kamu menjual rumah kamu seharga sekian juga Ya, saya terima

*Jika terjadi penjualan kebun milik penjual, maka juga terjadi penjualan kebun milik pembeli.

 

Alasan dilarangnya model jual beli ini:

  • Menurut Imam Tirmidzi adalah karena keduanya (penjual dan pembeli) saling berpisah dengan harga yang tidak diketahui, karena masing-masing penjual dan pembeli tidak mengetahui atas harga yang terjadi dalam akad.
  • Menurut Imam Asy-Saukani adalah karena adanya ta’liq (dikaitkan) dengan syarat pada masa datang.
  • Menurut Imam Al-Khattabi, dengan contoh: “saya jual budak laki-laki ini senilai 20 dinar, dengan syarat kamu menjual budak perempuanmu senilai 10 dinar”, hukumnya adalah fasad (rusak), karena kekurangan harganya masih tidak diketahui.
  • Para ulama’ madzhab Maliki dan Ibn Taimiyah tidak menerima penafsiran seperti ini dari segi keharamannya.
  • Menurut Imam Malik’ dengan contoh: “saya menjual budak laki-lakiku ditambah 10 dinar, dengan syarat anda menjual  budakmu senilai 20 dinar”, hukumnya adalah boleh, karena disana ada penjualan budak dengan budak ditambah dengan uang senilai 10 dinar.
  • Menurut Ibn Taimiyah, dengan contoh: “saya jual bajuku senilai 100, dengan syarat anda menjual bajumu senilai 100 juga”, maka jika yang diinginkan masing-masing penjualan bajunya, maka terjadi akad jual beli itu. Hal ini sama dengan nikah syighar yaitu pernikahan yang didasarkan pada janji atau kesepakatan penukaran dengan menjadikan 2 orang perempuan sebagai mahar masing-masing, contohnya seperti: “Saya nikahkan anda dengan dengan anak atau saudara perempuan saya, dengan syarat anda menikahkan saya dengan anak/saudara perempuan anda. Hal ini dilarang dalam Islam sesuai dengan hadis Nabi SAW:”Tidak ada nikah syighar dalam Islam,” (Shahih, HR Ibnu Majah [1885] dan Ibnu Hibban [4154])).

4) Pendapat Keempat:

No PENJUAL PEMBELI
4 Saya jual barang ini seribu dan delapan ribu Ya, saya terima

* Salah satu penjualan menjadi luzum (wajib)

 

Alasan dilarangnya model jual beli ini:

  • Menurut madzhab Malik, jual beli seperti ini tidak diperbolehkan, dalam rangka saddu dzari’ah (pent- menutup jalan yang dapat menghantarkan kepada perkara yang diharamkan) yaitu perkaray yang menyebabkan riba.

 

5) Pendapat Kelima:

No PENJUAL PEMBELI
5 Saya jual barang ini senilai 100 secara tangguh/kredit dengan jangka waktu satu tahun, dengan syarat saya akan membelinya dari kamu senilai 80 secara kontan. Ya, saya terima
  • Menurut Syeikhul Islam Ibn Qoyyim Al-jauziyah contoh inilah yang maksud dari hadis baiataini fi baiatin dan bukan penafsiran yang lain, karena pendapat ini diperkuat dengan hadis lainnya yaitu:

 نهى عن بَيْعَتَيْنِ فِي بَيْعَةٍ و عن سلف و بيع

Artinya: “Nabi SAW melarang 2 baiah dalam 1 baiah, dan melarang pinjaman dan jual beli”.

Lafadz hadis diatas, masing-masing kembali kepada riba. Pada dhahirnya seperti akad jual beli, namun pada hakikatnya adalah riba.

6) Pendapat Keenam:

No PEMBELI PENJUAL
6 Belikan saya alat-alat pertanian dibayar secara kontan! dan juallah alat-alat itu kepadaku senilai sekian secara kredit dengan jangka waktu satu tahun Ya, saya terima

*  Transaksi jual beli, tapi tidak ada barangnya.

  • Menurut Qodhi Ibn Arobi, penafsiran seperti ini adalah tidak mungkin, kecuali ada persyaratan. Dan jika pembeli itu menyerahkan dan berjanji untuk dijual kembali, maka hal ini tidak murni haram, melainkan karena ada syubhat dan dalam rangka saddu dzari’ah.

 

7) Pendapat Ketujuh:

No PENJUAL PEMBELI
7 Saya jual ini kepadamu 10 dinar, dengan syarat kamu memberikan harganya (kurs/nilai tukar) menggunakan dirham. Ya, saya terima

 

  • Contoh ini menurut mayoritas ulama’ fiqh seperti: Imam Syafi’i, Imam Abu Hanifah, Imam  Ahmad, Imam Ishaq, Imam Abu Tsaur termasuk dalam kategori baiataini fi baiatin.
  • Menurut Imam Malik, contoh seperti ini adalah boleh, karena bermaksud pada ucapannya yang terakhir dan ia tidak akan mengambil dinar (pent- harga) selamanya.

 

8) Pendapat Kedelapan:

No PEMBELI PENJUAL
8 Pembeli  memesan satu keranjang gandum selama satu bulan dan ketika jatuh temponya, pembeli memintanya senilai gandum, lalu pembeli berkata: ”juallah gandum kamu padaku dengan jangka waktu dua bulan lagi senilai dua keranjang”. Ya, saya terima

* Karena penjualan yang kedua sudah termasuk penjualan yang pertama

 

  • Contoh ini dikemukakan oleh Ibn Ruslan dalam kitab Syarh Sunan

Menurut Syeikh Nazih Hamd dalam kitab Qodoya Fiqhiya Muasiroh fil Mal wa al-Iktisod ada dua pendapat yang paling unggul dibanding pendapat yang lain, yaitu:

  1. Pendapat Pertama (yaitu bai’ al-mubham)
  2. Pendapat Kelima (yaitu bai’ al-ienah)

Walhasil, untuk mendapatkan penafsiran yang paling tepat dan paling sesuai terkait konteks larangan 2 baiah dalam 1 baiah dan larangan 2 shafqah dalam 1 shafqah seperti dalam hadis diatas, maka diperlukan kajian secara mendalam atas makna bahasa dari  lafadz ‘baiah’ dan ‘shafqah’, serta penjelasan para ulama ahli hadis dan ahli fiqh dari generasi Salaf Ash-Shalih, karena mereka adalah generasi terbaik dalam memahami nash-nash syara,’ disebabkan kedekatan mereka dengan masa nubuwah dan keluasan ilmu yang mereka miliki. (Vide: Kitab Qodhoya Al-Iqtisod Al-Muasiroh, Syeikh Nazih Hammad)

 

C. KAJIAN DAN NILAI HADIS DARI ASPEK SANAD:

HADIS PERTAMA:

«نهى رسول الله صلى الله عليه وسلّم عن صفقتين في صفقة واحدة».

Artinya: “Rasul SAW melarang 2 shafqah dalam 1 shafqah”.

 

1- KAJIAN HADIS DARI ASPEK SANAD

Takhrij Hadis:

1) Imam Ahmad meriwayatkan Hadis dengan lafadz seperti ini dalam Kitab Musnadnya (398/1) dari sahabat Ibn Mas’ud ra.

Imam Ahmad juga meriwayatkan secara mauquf dari Ibn Mas’ud ra. (393/1), ia berkata:

«لا تصلح سفقتان في سفقة، وأنَّ رسول الله صلى الله عليه وسلّم قال: «لعن الله آكل الربا وموكله وشاهده وكاتبه».

“Tidak layak 2 shafqah dalam 1 shafqah”, dan Rasul SAW bersabda: “Allah melaknat pemakan riba, yang menjadi wakil, saksi dan penulisnya”.

 

2) Ibn Hibban meriwayatkan hadis ini (no. 1111, 1112) dari jalan Sufyan dan Syu’bah.

3) Al-Hafidz Ibn Humam Ash-Shan’anii meriwayatkan dalam kitab Mushanafnya secara mauquf dari Ibn Mas’ud ra. Hadis no. 14.633 dan lafadznya:

 «لا تصلح الصفقتان في الصفقة، أن يقول: هو بالنسيئة بكذا وكذا وبالنقد بكذا وكذا».

Artinya: “Tidak layak 2 shafqah dalam 1 shafqah, seperti seorang yang berkata: barang ini secara tangguh/kredit dengan harga sekian dan jika tunai dengan harga sekian”.

Hadis no. 14636 dan lafadznya dari Ibn Mas’ud ra., ia berkata:

«الصفقتان في الصفقة ربا».

Artinya: “2 shafqah dalam 1 shafqah adalah riba”.

 

Hadis no. 14637 dan lafadznya dari Ibn Mas’ud ra., ia berkata:

«لا تحل الصفقتان في الصفقة».

Artinya: “Tidak halal 2 shafqah dalam 1 shafqah”.

 

4) Imam baihaqi meriwayatkan dalam kitab Sunan Al-Kubra (343/1) dengan sanadnya dari Abdullah ibn Amru ibn Al-Ash, bahwa Rasul SAW bersabda:

 «نهى عن بيع وسلف، وعن بيعتين في صفقة واحدة، وعن بيع ما ليس عندك»

Artinya: “Ia melarang jual beli dan salaf (hutang), dan dari 2 baiah dalam 1 shafqah, dan menjual sesuatu yang tidak dimiliki”.

 

5) Imam Ibn Abi Syaibah meriwayatkan secara mauquf dari sahabat Ibn Mas’ud ra. dengan lafadz :

«صفقتان في صفقة ربا»

Artinya: “2 shafqah dalam 1 shafqah adalah riba” (vide: Mushanaf 2/192/8)

 

Dengan Lafadz :

«الصفقة في الصفقتين ربا»

Artinya: “1 shafqah dalam 2 shafqah adalah riba (vide: Mushanaf 199/6; Mushanaf Abdurrazaq 138/8 dan 139)

 

6)  Imam Ibn Nashr meriwayatkan dengan lafadz yang serupa dalam kitab As-Sunnah (Vide: Ibn Nashr, Kitab As-Sunnah hal. 54)

 

2- NILAI HADIS DARI ASPEK SANAD:

Hadis Nabi SAW:

«نهى رسول الله صلى الله عليه وسلّم عن صفقتين في صفقة واحدة».

Artinya: “Rasulullah shollallahu ‘alahi wa ‘ala alihi wa sallam melarang dua shafqah dalam satu shafqah”.

Hadis ini marfu’ (pent- mata rantai sanadnya bersambung hingga Nabi SAW). Imam Al-Haitsami berkata dalam Majma Zawa’id & Manba’ Al-Fawaid bahwa hadis ini diriwayatkan dari Imam Al-Bazar, Ahmad, Thabrani dalam Al-Awsath dan lafadznya :

 «لا تحل صفقتان في صفقة»

Artinya: ”Tidak halal dua shafqah dalam satu shafqah”.

 

Ath-Thabrani juga meriwayatkan dalam kitab Al-Kabir dengan lafadz:

 «الصفقة بالصفقتين ربا»

Artinya: ”Satu shafqah dalam dua shafqah adalah riba”. Dan hadis ini dinilai mauquf (mata rantai perawinya hanya sampai kepada Sahabat ra.)

 

Al-Bazar juga meriwayatkan dengan tambahan lafadz:

 «وأمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلّم بإسباغ الوضوء. ورجال أحمد ثقات»

Artinya: “Rasul SAW memerintahkan kami untuk menyempurnakan wudhu’ “. Para perawi Imam Ahmad adalah para perawi yang terpercaya (tsiqat).

(Vide: Kitab Majma’ Az-Zawa’id dan Manba’ Al-fawaid, jilid 4/hal 84 – 86)

 

Syeikh Albani memberi komentar atas hadis ini:

 «رواية أحمد المرفوعة، في سندها شريك بن عبد الله القاضي، وهو سيِّء الحفظ، فلا يحتج به، مع مخالفته لسفيان وشعبة في رفعه»

Artinya: “hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad adalah hadis marfu’, tapi dalam sanadnya ada perawi bernama Syuraik Ibn Abdillah Al-Qadhi, dimana ia buruk hafalannya (sayyi’ul hifdzi), maka hadisnya tidak digunakan sebagai hujah, karena riwayatnya bertentangan dengan riwayat Sufyan dan Syu’bah dalam menilai hadis ini marfu’ “. (Vide: Kitab Irwa’ul Ghalil, jilid 5/ hal. 149)

Berkata Al-Hafidz Ibn Hajar tentang Syuraik Ibn Abdillah Al-Qadhi:

 «صدوق يخطىء، من الخامسة، مات في حدود الأربعين ومائة»، وذكر بأنَّ «البخاري ومسلمًا وأبا داود، والنسائي وابن ماجه، والترمذي في الشمائل قد أخرجوا أحاديثه»

Artinya: “Jujur tapi adakalanya salah (shuduq yukhti’), termasuk generasi perawi kelima, meninggal pada penghujung tahun 140 H. Tetapi Imam Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Nasai, Ibn Majah dan At-Tirmidzi dalam kitab syamail telah meriwayatkan hadits dari Syuraik. (Vide: Kitab Taqrib At-Tahdzib, Penerbit Darul Ma’rifah Beirut – Lebanon, Jilid 1/ hal. 351)

Walhasil, hadis ini secara sanad dinilai sebagai hadis marfu’ karena mata rantai sanadnya bersambung hingga Nabi SAW, tapi riwayat dengan lafadz ini ada cacatnya yaitu keberadaan perawi berna Syuraik Ibn Abdillah Al-Qadhi Al-Mishrii, atau dengan ungkapan lain hadis ini terindakasi termasuk hadis dhaif. Tetapi hadis ini memiliki beberapa hadis pendukung (syawahid) dari hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Ibn Umar, Ibn Amru ra., hingga hadis ini naik menjadi hadis hasan li ghairihi dan layak dijadikan hujjah. Para ulama memberi catatan bahwa hadis dhaif yang naik ‘statusnya’ menjadi hasan lighairi, karena di dukung hadis lainnya adalah bukan dalil utama untuk berhujah dan berargumentasi dalam masalah hukum yang terkait dengan halal – haram.

Terkait dengan riwayat mauquf (pent- mata rantai perawi berakhir pada para sahabat) dari Ibn Mas’ud ra., maka syeikh Albani menilai riwayat mauquf tersebut sahih, dengan penjelasan:

 «أخرجه عبد الرزَّاق في المصنف، وابن أبـي شيبة، وابن حبان، والطبراني وسنده صحيح، وفي سماع عبد الرحمن من أبيه خلاف، وقد أثبته جماعة، والمثبت مقدم على النافي ».

 Artinya: “Imam Abdurrazaq telah meriwayatkan hadis ini dalam kitab Mushanafnya, demikian pula Ibn Abi Syaibah, Ibn Hibban, Ath-Thabranii dengan sanad yang sahih. Terkait dengan riwayat yang didengar oleh Abdurrahman dari ayahnya terdapat khilaf. Sebagian ulama hadis (jama’ah) menetapkan kesahihan riwayat ini, maka berlaku kaidah:

 المثبت مقدم على النافي

Artinya:“penetapan hadis sahih didahulukan atas yang menafikannya”.

 

Adapun riwayat Imam Ahmad dengan lafadz:

«لا تصلح الصفقتان في الصفقة».

Artinya: “Tidak layak 2 shafqah dalam 1 shafqah,”.

 

Dan riwayat dari Imam Ibn Hibban dengan lafadz:

 «لا تحل الصفقتان في الصفقة». وأنَّ رسول الله صلى الله عليه وسلّم قال: «لعن الله آكل الربا وموكله وشاهده وكاتبه»

Artinya: “Tidak halal 2 shafqah dalam 1 shafqah”. dan Rasul SAW bersabda: “Allah melaknat pemakan riba, yang menjadi wakil, saksi dan penulisnya”. Merupakan riwayat yang sahih.

 Imam Ibn Nashr menambahkan dalam kitab As-Sunnah dengan lafadz:

 «أن يقول الرجل: إنْ كان بنقد فبكذا وكذا، وإن كان إلى أجل فبكذا وكذا».

Artinya: “seperti seorang yang berkata: jika tunai dengan harga sekian, dan jika tangguh/kredit dengan harga sekian”.

Ini adalah riwayat Imam Ahmad dan ia menjadikannya sebagai ucapan Samak, dimana perawinya adalah Abdurrahman Ibn Abdillah.

Adapun hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Nashr dan Abdurrazaq dalam kitab Mushanafnya adalah sahih sanadnya dari Syuraih, ia berkata: “maka ia menyebut riwayat tersebut dari ucapannya dengan lafadz semisal hadis terjemah dengan satu huruf”. Saya berpendapat (pent- syeikh albani):

 «وسماك هو ابن حرب، وهو تابعي معروف، قال: «أدركت بثمانين صحابيًّا»، وهو صدوق، غير أنَّ روايته عن عكرمة خاصة مضطربة، وقد تغيَّر بأخرة. مات سنة 23هـ. وروى له البخاري ومسلم وغيرهما ».

Artinya: “Samak adalah Ibn Harb, dia seorang tabi’in yang dikenal (ma’ruf), ia pernah berkata (saya pernah bertemu dengan 80 sahabat) (Vide: Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, Maktabah Al-Ma’arif – Riyadh, 420/5). Imam Bukhari dan Muslim, serta Ulama Hadis lainnya juga meriwayatkan hadis dari Samak. (Vide: Taqrib At-Tahdzib 1/332)

 

D. PENGERTIAN SHAFQAH:

Shafqah (الصفقة) secara bahasa berasal dari kata Ash-Shafaq (الصفق), yaitu pukulan yang dapat didengar suaranya. Dari kata ini dibentuk kata At-Tasfiiq (التصفيق).

Ada yang berkata: Shafaqa bi yadaihi wa tashaafaquu (صفق بيديه، وتصافقوا), maksudnya: saling berjual – beli (تبايعوا).

Ada yang berkata: Shafaqa yadahu bil ba’iah wal ba’I wa a’laa yadihi shafqan, maksudnya: memukul dengan tangannya kepada tangan orang lain (ضرب بيده على يده) dan hal ini dilakukan pada saat wajidnya jual-beli.

Ada juga yang berkata: Rabihtu Shafqataka (ربحت صفقتك), maksudnya: telah mendapat untung jual – beli anda (shafqataka).

Ada juga yang berkata: jual dan beli anda, dan shafqah yang menguntungkan atau merugikan (بيعك وشراؤك ــ وصفقة رابحة، أو خاسرة وهكذا).

(Lihat: Kitab Lisanul Arab – Ibn Mandzur dan Qamus Al-Muhith – Bab Kata Shafaqa)


Para Ulama ahli bahasa memberikan penjelasan terkait dengan makna yang sesuai atas lafadz shafqah (صَفْقَةٌ ), sebagai berikut:

 1)        Umar Ibn Khatab ra.:

 وَعَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ حِينَ وَضَعَ رِجْلَهُ فِي الْغَرْزِ إنَّ النَّاسَ قَائِلُونَ غَدًا مَاذَا قَالَ وَإِنَّ الْبَيْعَ صَفْقَةٌ أَوْ خِيَارٌ وَالْمُسْلِمُونَ عِنْدَ شُرُوطِهِمْ

Artinya: “Dari Umar bin Khatab ra.: ia berkata tatkala meletakkan kakinya pada pelana unta (الْغَرْزِ), apa yang akan dikatakan oleh orang-orang besok ? (pent- mereka akan mengikuti penjelasan umar), maka umar berkata: “jual beli (الْبَيْعَ) adalah shafqah (صَفْقَةٌ ) atau pilihan (خِيَارٌ) dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat yang mereka buat”. (Vide: Kitab Thalabah Ath-Thalabah, jilid 3/hal. 267, situs http://www.al-islam.com, maktabah Syamilah, nomer halaman berbeda dengan edisi cetak)

2)        Imam Al-Azharii:

 إنما قيل للبيعة صفقةٌ لضرب اليد على اليد عند عقد البيع

Artinya:“adapun terkait (للبيعة) adalah shafqah (صفقةٌ): karena menepuk/memukulkan tangan dengan tangan pada saat akad jual beli (لضرب اليد على اليد عند عقد البيع)”. (Vide: Tahdzib Al-Lughah, Jilid 3/hal. 158, Imam Al-Azhari, http://www.alwarraq.com, Maktabah Syamilah, nomer halaman berbeda dengan edisi cetak)

 3)  Imam Zamakhsyarii:

وهذه صفقة مباركة وهي ضرب اليد على اليد في البيع والبيعة

Artinya: ”Dan ini adalah shafqah yang diberkahi, yaitu menepukkan tangan dengan tangan dalam jual beli dan bai’at (pent- pengangkatan khalifah dalam Islam)”. (Vide: Asas Al-Balaghah, Imam Zamakhsyarii, Jilid 1/hal. 262, Maktabah Syamilah, http://www.alwarraq.com, nomer halaman berbeda dengan edisi cetak)

4)  Imam Ash-Shahib Ibn Ibad:

Ada juga yang berpendapat bahwa pengertian (وصَفَقَه بيَدِه صَفْقَةً): ia memukulnya dengan sekali pukulan (ضَرَبَه ضَرْبَةً).

Shafqah dalam jual beli (البَيْع): menepuk/memukulkan tangan dengan tangan (ضَرْبُ اليَدِ على اليَدِ). (Vide:  Al-Muhith Fi Al-Lughah, Ash-Shahib Ibn Ibad,  Jilid 1/hal. 445, http://www.alwarraq.com, nomer halaman berbeda dengan edisi cetak)

5)   Ibn Mandzur:

Dikatakan pada jual – beli dengan Ash-Shafqah, karena mereka (orang arab) dahulu kala ketika berjual – beli saling bersalaman/menepukkan tangan (وإنما قيل للبيعة: الصفقة، لأنهم كانوا إذا تبايعوا تصافقوا بالأيدي).

(Vide: Kitab Lisanul Arab, Penerbit Darul Ma’arif, Jilid 4/Hal. 2464)

Dari sini, menurut penjelasan para ulama ahli bahasa makna yang dimaksud dengan shafqah adalah jual-beli (al-bai’ah) (أنَّ المراد بالصفقة هي البيعة).

Kemudian berkembang (cara ini) pada jual – beli dan perdagangan secara mutlak, seperti yang ditunjukkan pada hadis Abu Hurairah:

 «ألهاهم الصفق بالأسواق»، أي: ألهاهم التبايع

Artinya: Mereka berjual – beli dengan saling menepuk di pasar-pasar. (HR. Bukhari dalam Kitab Shahihnya, dengan Fathul Barii, jilid 4/ hal. 321).

 أنَّ المراد بالصفقتين في صفقة واحدة:أي بيعتين في بيعة واحدة

Walhasil, dapat disimpulkan pengertian dua shafqah dalam satu shafqah adalah dua jual beli dalam satu jual beli. Kata Shafqah (الصفقة), safqah (السفقة), dan al-ba’iah (البيعة) adalah satu pengertian (mutaradif).

Selanjutnya akan dipaparkan penjelasan dari sejumlah para Ulama Salaf Ash-Shalih terkait dengan pemahaman yang tepat atas hadis ini, sebagai berikut:

1) Abdullah Ibn Mas’ud:

Abdur Razaq meriwayatkan dalam kitab Mushanafnya dari Abu Hurairah ra.:

 «لا تصلح الصفقتان في الصفقة: أن يقول: هو بالنسيئة بكذا وكذا، وبالنقد بكذا وكذا»

Artinya: ”Tidak boleh dua jual beli dalam satu jual beli”, maksudnya tatkala seorang berkata: harga barang ini secara tangguh/kredit adalah sekian, dan secara tunai adalah sekian (pent- terjadi akad jual beli tanpa memilih salah satu harga tunai atau kredit)”. (Mushanaf Abdurrazaq (138/8), hadis no 14.633, 14.639, 14.632, 14.636, 14.637)

Abdurrazaq meriwayatkan dalam kitab Mushanafnya dari Ibn Mas’ud, ia berkata:

«الصفقتان في الصفقة ربا». قال سفيان: يقول: إن باعه بيعًا فقال: أبيعك هذا بعشرة دنانير، تعطني بها صرف دراهمك.

Artinya: “2 jual beli dalam 1 jual beli adalah riba”. Sufyan berkata: “JIka seorang menjual barang, lalu berkata: Saya jual barang ini kepada anda 10 dinar, maka anda memberi kepada saya sebagai penggantinya dengan beberapa uang dirham anda”.

2) Sufyan Ats-Tsauri:

Abdur Razaq meriwayatkan dalam kitab Mushanafnya dari Sufyan Ats-TSauri, ia berkata:

 قال الثوري: إذا قلت: أبيعك بالنقد إلى كذا، وبالنسيئة بكذا وكذا، فذهب به المشتري، فهو بالخيار في البيعين ما لم يكن وقع بيع على أحدهما، فإن وقع البيع هكذا فهذا مكروه، وهو بيعتان في بيعة، وهو مردود، وهو الذي ينهى عنه، فإن وجدت متاعك بعينه أخذته، وإن كان قد استهلك فلك أوكس الثمنين وأبعد الأجلين.

Artinya: “Jika anda berkata: saya menjual kepada anda secara tunai dengan harga sekian, dan jika secara tangguh/kredit dengan harga sekian, lalu pembeli pergi, maka ia memiliki hak opsi (khiyar) antara dua (harga) jual beli ketika terjadi jual – beli pada salah satu dari keduanya. Ketika terjadi jual – beli dengan cara seperti ini (pent- terjadi akad jual beli tanpa memilih salah satu harga tunai atau kredit), maka jual beli ini hukumnya makruh (dibenci), karena termasuk dua jual beli dalam satu jual beli. Dan jual beli seperti ini tertolak (mardud) karena jual beli seperti ini dilarang. Jika anda mendapatkan barang anda, maka anda boleh mengambilnya. Jika barang tersebut telah musnah, maka bagi anda harga yang paling sedikit (pent- dari 2 pilihan harga) dan paling lama jatuh temponya (pent- dari 2 pilihan jangka waktu).

 وروى عبد الرزاق: قال الثوري في رجل سلف رجلاً مئة دينار في شيء، فلما ذهب ليزن له الدنانير، قال: أعطني بها دراهم أو عرضًا، قال: هو مكروه، لأنه بيعتان في بيعة.

Artinya: “Abdurrazaq meriwayatkan, Ats-Tsauri berkata tentang seorang yang meminjamkan 100 dinar untuk sesuatu kepada orang lain, ketika dia pergi untuk menimbangnya dengan beberapa dinar, maka dia (pent- orang yang memberi pinjaman) berkata:  berikan kepada saya beberapa dirham atau barang lain sebagai penggantinya (pent- pengganti hutang yang diberikan), Maka Ats-tsauri berkata: jual beli ini dibenci (makruh), karena ia adalah 2 jual beli dalam 1 jual beli”. (Vide: Mushanaf Abdurrazaq (138/8), hadis no 14.633, 14.639, 14.632, 14.636, 14.637)

 

3)  Masruq:

 Abdur Razaq meriwayatkan dalam kitab Mushanafnya:

 عن مسروق في رجل قال: أبيعك هذا البز بكذا وكذا دينارًا، تعطني الدينار من عشرة دراهم، قال مسروق: قال عبد الله: لا تحل الصفقتان في الصفقة.

Artinya: “dari Masruq kepada seorang, ia berkata: Saya menjual al-buz (pent- baju yang terbuat dari katun) kepada anda dengan sekian dinar, lalu anda memberikan kepada saya sebanyak 1 dinar yang terdiri dari 10 dirham. Marsuq berkata, Abdullah berkata : tidak halal 2 jual beli dalam 1 jual beli”. (Vide: Mushanaf Abdurrazaq (138/8), hadis no 14.633, 14.639, 14.632, 14.636, 14.637)

 

4) Samak:

Imam Ahmad meriwayatkan dari Samak dari Abdurrahman Ibn Abdillah Ibn Mas’ud dari ayahnya, ia berkata:

«نهى صلى الله عليه وسلّم عن صفقتين في صفقة». قال سماك: هو الرجل يبيع البيع فيقول هو بنسأ بكذا، وهو بنقد بكذا وكذا»

Artinya: “Nabi SAW melarang dua jual – beli dalam satu jual – beli”. Samak berkata: yakni seorang yang menjual barang, lalu berkata: barang ini harganya sekian secara tunai dan harganya sekian secara tunai (pent- terjadi akad jual beli tanpa memilih salah satu harga tunai atau kredit)”. (Musnad Imam Ahmad (1/ 393, 398))

Ini merupakan penafsiran dari Ibn Nashr dalam kitab As-Sunnah (hal. 54), Abdurrazaq meriwayatkan dalam kitab Al-Mushanaf dengan sanad yang sahih. (Vide: Mushanaf Abdurrazaq (138/8), hadis no. 14.629)

  

5) Abdul Wahab Ibn Atha’:

Imam Al-Baihaqi meriwayatkan dengan sannad dari abdul wahab ibn atha’ dari muhammad ibn amru dan dari abi salamah, dari abi hurairah ra. ia berkata:

 «أنَّ النبـي صلى الله عليه وسلّم نهى عن بيعتين في بيعة».

وفي رواية يحيـى قال عبد الوهَّاب: يعني يقول: هو لك بنقد بعشرة، وبنسيئة بعشرين».

Artinya: “Nabi SAW melarang dua jual – beli dalam satu jual – beli. Dalam riwayat yahya, Abdul Wahab berkata: yakni barang ini untuk anda secara tunai senilai 10 dan secara tangguh/kredit senilai 20 (pent- terjadi akad jual beli tanpa memilih salah satu harga tunai atau kredit)”. (Vide: Sunan Al-Kubra Lil Baihaqi (5/343))

6) Abi Sulaiman:

Syeikh berkata: Saya membaca dalam kitab Abi Sulaiman dalam menafsirkan hadis ini:

 كـأنـه أسلـف دينـارًا فـي قفيـز بر إلى شهـر، فلمـا حـلَّ الأجل وطـالبه بالبـر قال لـه: بعني القفيـز الذي لـك بقفيـزين إلى شهـرين، فهـذا بيع ثان، قد دخل على البيع الأول فصار بيعتين في بيعة فيردان إلى أوكسهما، وهو الأصل، فإن تبايعا البيع الثاني قبل أن يتناقضا البيع الأول كانا مربين.

 Artinya: “Seperti orang yang memberi hutang senilai 1 dinar berupa 1 qafiz (12 sha’) gandum dengan jangka waktu sebulan. Ketika jatuh tempo, dan ia meminta ganti dengan gandum. Ia (pent- peminjam belum mampu membayar hutangnya) berkata kepada penjual: “Juallah kepada saya 1 qafiz (12 sha’) gandum milikmu dengan nilai 2 qafiz gandum dengan jangka waktu 2 bulan”, maka ini adalah jual beli kedua. Dimana jual beli kedua masuk pada jual beli pertama, sehingga terjadilah 2 jual beli dalam 1 jual beli, maka hendaknya (pent- menurut konteks hadis) ia (pent- pembeli) mengambil harga yang paling rendah (pent- harga pokok yaitu 1 qafidz gandum). JIka keduanya (pent- pembeli & penjual) melakukan jual beli yang kedua sebelum menyelesaikan jual beli pertama, maka keduanya telah melakukan riba.” (Vide: Sunan Al-Kubra Lil Baihaqi (5/343))

7) Abu Ubaid:

Abu Ubaid rahimahullah berkata:

 «ومعنى «صفقتان في صفقة»: أن يقول الرجل للرجل: أبيعك هذا نقدًا بكذا، ونسيئة بكذا، ويفترقان عليه.

Artinya: “pengertian dua jual beli dalam satu jual beli seperti seorang yang berkata kepada orang lain: saya menjual barang ini kepada anda secara tunai dengan harga sekian, dan secara tangguh/kredit dengan harga sekian, dan kemudian keduanya berpisah (pent- terjadi akad jual beli, tanpa memilih salah satu dari 2 harga tunai atau kredit). (Vide: Nashbu Ar-Rayah (4/20))

Abu Ubaid rahimahullah berkata:

 في حديث عبد الله [ رحمه الله -  ] صفقتان في صفقة ربا  [ قال -  ] معناه أن يقول الرجل للرجل: / أبيعك هذا الثوب بالنقد بكذا وبالتأخير بكذا، ثم يفترقان على هذا الشرط  [ ومنه حديث النبي صلى الله عليه وسلم: إنه نهى عن بيعتين في بيعة: فإذا فارقه على أحد الشرطين بعينه فليس ببيعتين في بيعة ].

Artinya: “Abu Ubaid berkata: terkait hadis Abdullah tentang larangan 2 shafqah dalam 1 shafqah adalah riba, ia berkata: pengertian larangan 2 shafqah dalam 1 shafqah, seperti seorang berkata: seorang kepada orang lain: saya jual kepada anda baju ini secara tunai senilai sekian, dan secara tangguh senilai sekian, kemudian keduanya berpisah atas syarat ini (pent- tidak memilih salah satu harga).

Terkait dengan hal ini, terdapat hadis Nabi SAW yang melarang 2 baiah dalam 1 baiah. Namun ketika pembeli berpisah dengan pembeli dengan memilih salah satu dari syaratm maka tidak termasuk larangan 2 baiah dalam 1 baiah. (Vide: Gharib Al-Hadis Li Ibn Salam, jilid 4/hal. 110, Maktabah Syamilah, nomer halaman sesuai dengan edisi cetak)

Abu Ubaid rahimahullah berkata:

 وفي هذا  الحديث من الفقه أنه لم ير بأسا أن يكون للبيع سعران: أحدهما بالتأخير والآخر بالنقد  – إذا فارقه على أحدهما فأما إذا فارقه عليهما جميعا فهو الذي قال عبد الله: صفقتان في صفقة ربا، ومنه الحديث المرفوع أنه نهى عن بيعتين في بيعة.

Artinya: ”Kandungan fiqh dalam hadis ini, ia (abu ubaid) berpendapat boleh jual beli dengan 2 harga : harga tangguh dan harga tunai. Jika pembeli berpisah dengan penjual dengan memilih salah satu harga. Adapun jika pembeli berpisah dengan penjual dengan 2 harga, hal ini seperti ucapan Abdullah ra.: 2 shafqah dalam 1 shafqah adalah riba. Tedapat hadis marfu’ yang melarang 2 baiah dalam 1 baiah”. (Vide: Gharib Al-Hadis Li Ibn Salam, jilid 4/hal. 243, Maktabah Syamilah, No Halaman sesuai dengan edisi cetak)

8)  Ibn Sirin:

Abdur Razaq meriwayatkan dalam kitab Mushanafnya dari Ayub dengan sanad yang sahih, dari Ibn Sirin:

 أنه كان يكره أن يقول: أبيعك بعشرة دنانير نقدًا، أو بخمسة عشر إلى أجل، وما كره ذلك إلاَّ لأنه نهى عنه.

Artinya: “Ia tidak menyukai seorang yang berkata: Saya menjual barang ini kepada anda dengan 10 dinar secara tunai, atau 15 dinar secara tangguh/kredit (pent- terjadi akad jual beli tanpa memilih salah satu harga tunai atau kredit). Ibn Sirin membenci transaksi seperti ini karena transaksi ini dilarang”. (Vide: Mushanaf Abdurrazaq (8/137), hadis no. 14.629)

9)  Thawus:

Abdurrazaq meriwayatkan dari Thawus dengan sanad yang sahih, ia berkata:

 إذا قال: هو بكذا وكذا إلى كذا وكذا، وبكذا وكذا إلى كذا وكذا، فوقع البيع على هذا فهو بأقل الثمنين إلى أبعد الأجلين[40].

Artinya: “Jika ada orang berkata: harga barang ini (pent- misal harga tunai) sekian hingga jangka waktu sekian, dan harganya (pent- misal harga kredit) sekian hingga jangka waktu sekian. Kemudian terjadi akad jual beli, maka hendaknya ia mengambil harga yang paling rendah dan jangka waktu yang paling panjang”. (Vide: Mushanaf Abdurrazaq (8/137), hadis no 14631, 14.626)

Abdurrazaq dan Ibn Abi Syaibah meriwayatkan dalam kitab Mushanafnya dari jalan Laits, dari Thawus secara ringkas, selain ucapan «فوقع البيع» kemudian Laits menambahkan lafadz:

«فباعه على أحدهما قبل أن يفارقه، فلا بأس به»

Artinya: “Kemudian ia menjual dengan memilih salah satu dari 2 harga (pent- harga tunai dan harga kredit) sebelum ia berpisah, maka hal ini tidak mengapa (laa ba’tsa bihi). (Vide: Mushanaf Ibn ABi Syaibah (6/120))

Tapi Syeikh Albani memberi komentar: tambahan ini tidak sahih dari Thawus, karena Laits (yaitu Ibn Abi Sulaim) sering bercampur hafalannya (كان اختلط). (Vide: Silsilah Al-Ahadis Ash-Shahihah (5/420))

10)  Al-Auzaii :

 Al-Khatabi menyebutkan dalam kitab Ma’alim As-Sunan, ia bertanya kepada Al-Auzaii:

 «فإن ذهب بالسلعة على ذينك الشرطين؟ فقال: هي بأقل الثمنين إلى أبعد الأجلين».

Artinya: “Jika ada orang pergi membawa barang dagangan (sil’ah) dengan memberi 2 syarat (pent- misal harga tunai sekian dengan jangka waktu sekian atau harga kredit sekian dengan jangka waktu sekian) ?, lalu Al-Auzai menjawab: hendaknya ia mengambil barang dengan harga yang paling rendah dan jangka waktu yang paling lama”. (Vide: Ma’alim As-Sunan (5/99))

11)  Imam An-Nasaa’i:

Imam Nasa’I menjelaskan hadis ini dalam bab baitain fi bai’atin, yakni seorang yang berkata:

«أبيعك هذه السلعة بمئة درهم نقدًا، وبمائتي درهم نسيئة».

 Artinya: ”saya jual barang ini kepada anda senilai 100 dirham secara tunai, dan 200 dirham secara kredit (pent- terjadi akad jual beli tanpa memilih salah satu harga tunai atau kredit).” (Vide: Sunan An-Nasa’I (7/295)) (bersambung)

About these ads