GHARAR, SEPERTI APA ?

A- Pengantar

Perkembangan bisnis kontemporer demikian pesat, yang menjadi tujuan adalah mendapatkan keuntungan materi semata. Parameter agama dikesampingkan, yang menjadi ukuran adalah mendulang materi sebanyak-banyaknya. Ini merupakan ciri khas peradaban kapitalis ribawi yang memuja materi. Tidak mengherankan bila dalam praktek bisnis dalam bingkai ideologi kapitalis serba bebas nilai. Spekulasi, riba, manipulasi supply and demand serta berbagai kegiatan yang dilarang dalam Islam menjadi hal yang wajar.

Salah satu praktek yang dilarang dalam Islam, tetapi lazim dilakukan di bisnis kotemporer ribawi adalah praktek gharar (uncertianty). Makalah ini ditulis untuk menjelaskan gharar dari aspek bahasa, fiqh, ragam dan bentuk mitigasinya. Sebagai sebuah upaya edukasi kepada masyarakat tentang praktek bisnis islami yang harus menghindari perkara-perkara yang dilarang dalam Islam.

Baca lebih lanjut

TA’ALUQ DAN MULTI AKAD, TIDAK HARAM ? (1)

A. Pendahuluan

Seiring dengan berjalannya waktu, kegiatan transaksi ekonomi berkembang pesat, sehingga bermunculan beragam model transaksi yang tidak dikenal pada masa lalu tapi berkembang dimasa kini. Salah satu diantaranya adalah penggunaan dua akad atau lebih menjadi satu transaksi, yang dalam fiqih kontemporer disebut al-‘uqud al-murakkabah (hybrid contract/multiakad). Multi akad (hybrid contract) adalah kesepakatan dua pihak untuk melaksanakan suatu muamalah yang meliputi dua akad atau lebih, misalnya satu transaksi yang terdiri dari akad jual-beli dan ijarah, akad jual beli dan hibah dan seterusnya, sehingga semua akibat hukum dari akad-akad gabungan itu, serta semua hak dan kewajiban yang ditimbulkannya, dianggap satu kesatuan yang tak dapat dipisah-pisahkan, yang sama kedudukannya dengan akibat-akibat hukum dari satu akad. (Vide: Nazih Hammad, Al-‘Uqud Al-Murakkabah fi al-Fiqh al-Islami, hal. 7; Abdullah al-‘Imrani, Al-Uqud al-Maliyah al-Murakkabah, hal. 46).

Ada sebagian ulama kontemporer yang menilai konsep multi akad bertentangan dengan syariah, karena terdapat nash yang melarang penggabungan beberapa akad dalam satu transaksi, seperti hadis Ibnu Mas’ud ra., ia berkata:

 «نهى رسول الله صلى الله عليه وسلّم عن صفقتين في صفقة واحدة»

Artinya: ”Nabi SAW melarang dua shafqah dalam satu shafqah” (HR Ahmad, Al-Musnad, I/398).

Hadis ini juga dijadikan dasar untuk melarang konsep ta’aluq, yaitu satu akad yang pelaksanaannya tergantung dengan akad yang lain, seperti orang yang berkata: “saya menjual rumah ini, dengan syarat anda menikahkan anak perempuan anda dengan saya”. Atau “saya menjual rumah ini, dengan syarat anda menjual kuda anda kepada saya”. Kedua model akad ini adalah batil, karena akad jual beli rumah tergantung dengan akad yang lain yaitu akad nikah.

Berdasarkan argumentasi diatas, maka sebagian ulama kontemporer melarang semua model dan bentuk transaksi muamalah yang terindikasi ada ’unsur’ multi akad dan ta’aluq. Maka untuk mendapat pemahaman yang tepat atas masalah ini, dibutuhkan kajian untuk memperoleh pemahaman yang sahih terkait dengan larangan Nabi SAW atas 2 shafqah dalam 1 shafqah dan larangan 2 baiah dalam 1 baiah.

  Baca lebih lanjut

TA’ALUQ DAN MULTI AKAD, TIDAK HARAM ? (2)

E. PENGERTIAN 2 BAIAH DALAM 1 BAIAH

HADIS KEDUA:

«نهى رسول الله صلى الله عليه وسلّم عن بيعتين في بيعة»:           

Artinya: Rasul SAW melarang 2 bai’ah dalam 1 baiah”

Hadis ini diriwayatkan oleh 3 orang sahabat yaitu Abu Hurairah, Abdullah ibn Umar Ibn Khatab, dan Abdullah ibn Amr Ibn Ash.

1) Hadis Abu Hurairah ra.:

«نهى رسول الله صلى الله عليه وسلّم عن بيعتين في بيعة»

 Artinya: “Rasul SAW melarang 2 bai’ah dalam 1 baiah”.

Imam Tirmidzi menilai hadis ini: Hadis Hasan Sahih (Vide: Sunan At-Tirmidzi dengan Tuhfah Al-Ahwadzi (4/427-429)). Dan dengan lafadz : «من باع…».

Imam Al-Hakim menilai hadis ini sahih menurut syarat Imam Muslim «صحيح على شرط مسلم»  dan disepakati oleh Imam Adz-Dzahabi (Vide: Al-Mustadrak Ala Shahihain (2/45))

Imam Ibn Hazm menilai hadis ini juga sahih (Vide: Al-Muhala Li Ibn Hazm (9/16)), Abdul Haq dalam kitab Ahkamnya (Vide: Al-Ahkam Lil Hafidz Abdul Haq (1/155), seperti dala Irwa’ Al-Ghalil (5/150)) dan Al-Baghawi (Vide: Syarh As-Sunah (8/142)). Tetapi Syeikh Albani berkata dalam Kitab Sahih Al-Jami’ Ash-Shagir: hadis sahih (no. 6943), dalam kitab Al-Irwa’: hadis ini hasan saja, karena Muhammad Ibn Amru ada sedikit kritik (kalam yasir) terkait hafalannya. Imam Bukhari meriwayatkan hadisnya sebagai hadis pendamping (maqrun), dan Imam Muslim meriwayatkan hadisnya sebagai hadis pendukung (mutaba’ah). (Vide: Irwa’ Al-Ghalil (5/150))

Hafidz Ibn Hajar berkata tentang Muhammad Ibn Amru Al-Yafi’ii:

«صدوق، له أوهام من التاسعة، ثم أشار إلى أنه روى له مسلم والنسائي»

Artinya: “terpercaya (shuduq), kadang salah sangka dalam meriwatkan hadis (lahu awham), termasuk generasi perawi hadis kesembilan. Beliau memberi isyarat bahwa Imam Muslim dan An-Nasa’I meriwayatkan hadis darinya. (Vide: Taqrib At-Tahdzib (2/196))

Baca lebih lanjut

TA’ALUQ DAN MULTI AKAD, TIDAK HARAM ? (3)

G- Hadis Ini Melarang Jual Beli Secara Kredit ?

Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shollallahu ‘alahi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :

مَنْ بَاعَ بَيْعَتَيْنِ فِيْ بَيْعَةٍ فَلَهُ أَوْكَسُهُمَا أَوِ الرِّبَا

Artinya: “Barangsiapa melakukan 2 jual beli dalam 1 jual beli, maka baginya (harga,-pent.) yang paling sedikit atau riba”.

Sebagian ulama berpendapat bahwa hadits ini menunjukkan keharaman jual beli secara kredit (تقسيط) dengan adanya penambahan pada harga kredit diatas harga tunai. Dan padanya juga dua penjualan, secara kontan dan kredit pada satu transaksi, sehingga pada hal ini tidak lepas dari dua kemungkinan yaitu mengambil yang paling sedikit berupa harga kontan atau melakukan riba dengan mengambil harga kredit. Demikianlah hadits ini telah ditafsirkan oleh sebahagian ulama salaf bahwa makna dua penjualan dalam satu transaksi adalah jika seseorang berkata : “Barang ini secara kredit dengan harga sekian dan secara kontan dengan harga sekian”. Hal ini dikuatkan oleh ucapan Ibnu Mus’ud :

الصَّفْقَةُ فِي الصَّفْقَتَيْنِ رِبًا

Artinya: “2 shafqah dalam 1 shafqah  adalah riba”. (Dishohihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Ash-Shohihah 5/420 dan Al-Irwa` 5/148/1307)

Baca lebih lanjut

SHAHIHKAH, HADIS KULLU QARDHIN JARRA NAF’AN FAHUWA RIBA ?

A-  PENGANTAR:

 

Diskusi tentang fiqih muamalat merupakan topik yang hangat di negeri ini. Salah satu topik yang menarik untuk dikaji dan dibahas adalah terkait dengan isu riba. Para ulama telah bersepakat bahwa setiap tambahan yang dipersyaratkan atas pokok dari hutang adalah riba. Namun terdapat perbedaan pendapat dikalangan para ulama dahulu dan kontemper terkait dengan manfaat yang tidak berupa uang yang diperoleh dari akad hutang – piutang (qardh). Pokok penyebab dari munculnya perbedaan pendapat dalam masalah ini, bermula dari perbedaan penafsiran atas hadis nabi SAW:

 كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبًا

Artinya: “Setiap akad qardh dengan mengambil manfaat adalah riba”.

Terkait dengan topik ini, maka makalah ini ditulis untuk mendapat kejelasan tentang status hadis ini dan penjelasan para ulama tentang kandungan hukumnya. Baca lebih lanjut

SHAHIHKAH, HADIS KULLU QARDHIN JARRA NAF’AN FAHUWA RIBA ? (2)

Penjelasan Syeikh Abdullah Ibn Abdurrahman Al-Basam:

Dari Ali ra., ia berkata, Rasul SAW bersabda:

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِباً

Artinya: “Setiap qardh dengan mengambil manfaat adalah riba”.

Al-Harits Ibn Abi Usamah (Al-haitsami) meriwayatkan hadis ini, didalam sanadnya terdapat perawi yang gugur (وإسنادُهُ ساقِطٌ), maksudnya:

لأَنَّ فِي إسْنَادِهِ سَوَّارَ بْنَ مُصْعَبٍ الْهَمْدَانِيَّ الْمُؤَذِّنَ الأَعْمَى، وَهُوَ مَتْرُوكٌ.

Artinya: karena dalam sanadnya terdapat perawi bernama Sawwar Ibn Mus’ab Al-Hamdani seorang muadzin buta, dan ia adalah perawi yang hadisnya ditinggalkan (وَهُوَ مَتْرُوكٌ).

Baca lebih lanjut

SHAHIHKAH, HADIS KULLU QARDHIN JARRA NAF’AN FAHUWA RIBA ? (3)

H.  STATUS HUKUM HADIS DHAIF

Hadits dla’if tidak bisa diamalkan secara mutlak, baik dalam fadlail maupun persoalan yang menyangkut tentang ahkam (hukum syari’ah). Hal tersebut dikhabarkan oleh Ibnu Sayyidin-Naas [vide: Kitab Uyuunul-Atsar] dari Yahya bin Ma’in berkata:

«من لم يكن سَمحاً في الحديث، كان كذّاباً!». قيل له: «وكيف يكون سمحاً؟». قال: «إذا‏شَكَّ في الحديث تركه».‏

Artinya: “Barangsiapa yang tidak mempunyai sikap toleran/lapang dalam hadits, maka ia seorang pendusta”. Dikatakan kepadanya : ”Bagaimana seorang dikatakan sebagai seorang yang toleran/lapang ?”. Maka ia menjawab : ”Apabila ia ragu dalam sebuah hadits, maka ia meninggalkannya”.[Vide: Tahdzibut-Tahdzib jilid 11/hal. 250 – biografi Yahya bin Ma’in)].

Baca lebih lanjut

TIDAK ADA RIBA DI BANK SYARIAH ? (1)

Pengantar

Bank syariah menjadi fenomena yang marak dibicarakan saat ini. Hal ini terjadi kerena pertumbuhan bank syariah yang demikian pesat dalam kurun 10 tahun terakhir. Hampir tidak ada Bank BUMN dan Bank Swasta Nasional, kecuali memiliki unit usaha syariah (UUS) atau anak perusahaan berupa Bank Umum Syariah (BUS). Namun demikian, masih banyak kalangan yang pesimis, karena menganggap bahwa bank syariah tidak ada bedanya dengan bank konvensional. Istilah bunga di bank konvensional diganti menjadi istilah margin, bagi hasil dan lainnya. Mereka menganggap bank syariah masih ‘terkontaminasi’ dengan riba seperti di bank konvensional, hanya istilah bunga/interest diganti dengan istilah lain. Mereka menilai bank syariah masih terkontaminasi dengan ‘debu riba’ seperti hadis riwayat Abu Hurairah ra. bahwa Rasul SAW bersabda:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَأْكُلُونَ الرِّبَا فَمَنْ لَمْ يَأْكُلْهُ أَصَابَهُ مِنْ غُبَارِهِ

Artinya: “Suatu saat nanti manusia akan mengalami suatu masa yang ketika itu semua orang memakan riba. Yang tidak makan secara langsung itu akan terkena debunya” (HR. Nasa’i no. 4455, namun dinilai dhaif oleh Syeikh Al-Albani).

Untuk menjawab ‘tudingan’ ini, kita harus melakukan kajian lebih dalam terkait dengan definisi riba dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta penjelasan para Ulama Salaf Ash-Shalih terkait dengan pengertian yang sahih tentang riba, jenis dan bentuk transaksinya. Makalah ini ditulis untuk meluruskan kesalahpahaman tentang konsep riba dan posisi Bank Syariah dalam menyikapi riba yang dilarang dalam Islam.

Baca lebih lanjut

TIDAK ADA RIBA DI BANK SYARIAH ? (2)

Jenis-jenis Riba:

Sebagian besar ulama membagi riba menjadi dua macam; (1) riba nasi’ah (riba jahiliyyah) (ربا النسيئة); (2) riba fadlal (ربا الفضل ). Pendapat ini adalah pendapat Ibn Qudamah, Asy-Syaukani, Al-Khursyi, Az-Zayla’I, Al-Kasani, Al-Bahuti, Hasan Ibn Muthahar dan ulama lainnya. (Vide: Al-Mughni, Jilid 4/hal. 1; Fathul Qadir Jilid 1/hal. 294; Syarh Mukhtashar Khalil jilid 5/hal. 36; Bada’I ash-Shana’I jilid 7/hal. 3105-3106; Tabyin Al-Haqaiq Syarh Kanz Ad-Daqaiq jilid 4/hal. 85; Tadzkirah Al-Fuqaha jilid 7/hal. 84)

Ada juga ulama yang menambahkan jenis riba yang lain seperti riba qardh dan riba yadd. Namun ketika diteliti lebih dalam, ternyata riba qardh dan riba yadd merupakan bagian dari riba nasiah dan riba fadhl.

Baca lebih lanjut

HUKUM MENJAMINKAN BARANG YANG DIPEROLEH SECARA KREDIT

Pengantar

Ada yang berpendapat bahwa menjaminkan barang yang dibeli secara tangguh/kredit kepada penjual adalah bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah karena tidak sesuai dengan penunjukan akad (muqtadha al-aqd) dan menghilangkan kebebasan tasharuf (hurriyah tasharuf) pada pembeli. Untuk menjawab hal ini, maka tulisan ini akan dibagi menjadi beberapa bagian sebagai berikut:

1)  Pengertian Tasharuf;

2)  Hukum Asal Perbuatan;

3)  Kaitan Jual Beli Kredit dengan Gadai; dan

4) Hukum Islam Tentang Menjaminkan Barang Yang Dibeli Secara Tangguh/Kredit Kepada Penjual.

5) Menjawab Argumentasi Kelompok Yang Melarang Menjaminkan Barang Yang Diperoleh secara Kredit.

  Baca lebih lanjut