Pengantar

Bank syariah menjadi fenomena yang marak dibicarakan saat ini. Hal ini terjadi kerena pertumbuhan bank syariah yang demikian pesat dalam kurun 10 tahun terakhir. Hampir tidak ada Bank BUMN dan Bank Swasta Nasional, kecuali memiliki unit usaha syariah (UUS) atau anak perusahaan berupa Bank Umum Syariah (BUS). Namun demikian, masih banyak kalangan yang pesimis, karena menganggap bahwa bank syariah tidak ada bedanya dengan bank konvensional. Istilah bunga di bank konvensional diganti menjadi istilah margin, bagi hasil dan lainnya. Mereka menganggap bank syariah masih ‘terkontaminasi’ dengan riba seperti di bank konvensional, hanya istilah bunga/interest diganti dengan istilah lain. Mereka menilai bank syariah masih terkontaminasi dengan ‘debu riba’ seperti hadis riwayat Abu Hurairah ra. bahwa Rasul SAW bersabda:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ يَأْكُلُونَ الرِّبَا فَمَنْ لَمْ يَأْكُلْهُ أَصَابَهُ مِنْ غُبَارِهِ

Artinya: “Suatu saat nanti manusia akan mengalami suatu masa yang ketika itu semua orang memakan riba. Yang tidak makan secara langsung itu akan terkena debunya” (HR. Nasa’i no. 4455, namun dinilai dhaif oleh Syeikh Al-Albani).

Untuk menjawab ‘tudingan’ ini, kita harus melakukan kajian lebih dalam terkait dengan definisi riba dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta penjelasan para Ulama Salaf Ash-Shalih terkait dengan pengertian yang sahih tentang riba, jenis dan bentuk transaksinya. Makalah ini ditulis untuk meluruskan kesalahpahaman tentang konsep riba dan posisi Bank Syariah dalam menyikapi riba yang dilarang dalam Islam.

Definisi Riba  Secara Bahasa

Kata Ar-Riba adalah isim maqshur, berasal dari kata kerja rabaa – yarbuu, yaitu akhir kata ini ditulis dengan alif.

ربا الماء يربو :زاد و ارتفع

Rabaa Al-Ma’u yarbuu, artinya air itu terus bertambah dan meninggi.

(Vide: Ahmad Syarbashi, Mu’jam Al-I’tishad Al-Islamii, Penerbit Darul Jail, Bab Huruf Ra – Riba, Hal. 191)

Secara literal, riba bermakna tambahan (al-ziyadah) (Vide: Imam Thabariy, Tafsir al-Thabariy, juz 6, hal. 7, dan Imam al-Manawiy, al-Ta’aariif, juz 1, hal. 354).

Adakalanya tambahan itu berasal dari dirinya sendiri, seperti firman Allah SWT:

فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ

Artinya: : Tatkala kami turunkan air hujan pada bumi, maka (ihtazzat wa rabat) menjadi hidup dan subur bumi itu.” (QS Al-Hajj: 5).

Dan, adakalanya tambahan itu berasal dari luar berupa imbalan, seperti satu dirham ditukar dengan dua dirham.

Hukum Riba Dalam Islam

Dalil-dalil syara’ dari kitabullah, sunnah Rasul-Nya dan ijma’ umat Islam secara tegas telah menjelaskan keharaman riba dalam berbagai bentuknya. Allah SWT  berfirman:

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبا لا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Artinya: “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), “Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba,” padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. [Surat Al Baqarah (2): 275].

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُؤُوسُ أَمْوَالِكُمْ لا تَظْلِمُونَ وَلا تُظْلَمُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya”. [Surat Al Baqarah (2): 279].

Sebagian Ulama menyatakan ayat ini adalah ayat terakhir yang turun kepada Nabi SAW, seperti penjelasan Abdullah Ibn Abbas ra. berikut:

هذه آخر آية نزلت على النبي صلى الله عليه وسلم (رواه البخاري مع الفتح : 4 / 368 باب موكل الربا )

Artinya: Ayat ini adalah ayat terakhir yang turun kepada Nabi SAW (HR. Bukhari dalam Al-Fath, Jilid 4/hal. 368, Bab Muukil Ar-Riba)

Dalam hadis-hadis sahih, Nabi Muhammad SAW menegaskan tentang keharaman riba, seperti sabda beliau SAW berikut:

اجتنبوا السبع الموبقات قالوا: يا رسول الله، وما هن ؟ قال: الشرك، والسحر، وقتل النفس التي حرّم الله إلا بالحق، وأكل الربا، وأكل مال اليتيم، والتّولّي يوم الزّحف، وقذف المحصنات الغافلات المؤمنات

Artinya: “Jauhilah tujuh hal yang membinasakan.” Para sahabat bertanya, “Apa itu, ya Rasulullah?” Jawab Beliau, (Pertama) melakukan kemusyrikan kepada Allah, (kedua) sihir, (ketiga) membunuh jiwa yang telah haramkan kecuali dengan cara yang haq, (keempat) makan riba, (kelima) makan harta anak yatim, (keenam) melarikan diri pada hari pertemuan dua pasukan, dan (ketujuh) menuduh berzina perempuan yang menjaga kesuciannya (muhsonat) yang tidak tahu menahu tentang urusan ini (ghafilaat) dan beriman kepada Allah (mukminat).” (Muttafaqun ‘alaih: Fathul Bari V: 393 no: 2766, Muslim I: 92 no: 89, ‘Aunul Ma’bud VIII: 77 no: 2857 dan Nasa’i VI: 257).

 دِرْهَمُ رِبَا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتٍّ وَثَلَاثِيْنَ زِنْيَةً

Artinya: “Satu dirham riba yang dimakan seseorang, dan dia mengetahui (bahwa itu adalah riba), maka itu lebih berat daripada tiga puluh enam (36) pelacur”. (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 3375 dan al-Fathur Rabbani XV: 69 no: 230 dari Abdullah bin Hanzhalah ra.).

الرِبَا ثَلاثَةٌَ وَسَبْعُوْنَ بَابًا أَيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ, وَإِنَّ أَرْبَى الرِّبَا عَرْضُ الرَّجُلِ الْمُسْلِمَ

Artinya: “Riba itu mempunyai 73 pintu, sedang yang paling ringan seperti seorang laki-laki yang menzinai ibunya, dan riba yang paling buruk adalah mengganggu kehormatan seorang muslim”. (HR Al-Hakim II: 37 dan Ibn Majah, dan Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 3539).

لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّباَ وَمُوْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ: هُمْ سَوَاءٌ

Artinya: “Rasulullah saw melaknat orang memakan riba, yang memberi makan riba, penulisnya, dan dua orang saksinya. Belia bersabda; Mereka semua sama”. (HR Muslim III: 1219 no: 1598 dan Shahih: Mukhtasar Muslim no: 955, Shahihul Jami’us Shaghir no: 5090).

Pada saat haji wada’, Rasul SAW bersabda:

أَلاَ كُلُّ شَىْءٍ مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ تَحْتَ قَدَمَىَّ مَوْضُوعٌ وَدِمَاءُ الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوعَةٌ وَإِنَّ أَوَّلَ دَمٍ أَضَعُ مِنْ دِمَائِنَا دَمُ ابْنِ رَبِيعَةَ بْنِ الْحَارِثِ كَانَ مُسْتَرْضِعًا فِى بَنِى سَعْدٍ فَقَتَلَتْهُ هُذَيْلٌ وَرِبَا الْجَاهِلِيَّةِ مَوْضُوعٌ وَأَوَّلُ رِبًا أَضَعُ رِبَانَا رِبَا عَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ فَإِنَّهُ مَوْضُوعٌ كُلُّهُ

Artinya: “Ingatlah, segala perkara jahiliah itu terletak di bawah kedua telapak kakiku. Semua kasus pembunuhan di masa jahiliah itu sudah dihapuskan. Kasus pembunuhan yang pertama kali kuhapus adalah pembunuhan terhadap Ibnu Rabi’ah bin al Harits. Dulu dia disusui oleh salah seorang Bani Saad lalu dibunuh oleh Hudzail. Riba jahilaih juga telah dihapus. Riba yang pertama kali kuhapus adalah riba yang dilakukan oleh Abbas bin Abdil Muthallib. Sungguh semuanya telah dihapus” (HR. Muslim No. 3009 dari Jabir Ibn Abdillah ra.).

Para ulama sepakat bahwa riba adalah haram dan termasuk dosa besar. Keadaan-nya seperti yang digambarkan oleh Ibnu Taimiyah sebagai berikut:

المراباة حرام بالكتاب والسنة والإجماع . وقد لعن رسول الله r آكل الربا وموكله وكاتبه وشاهديه والمُحلل والمُحلل له . أهـ . لم يتهدد الله عز وجل ويتوعد مرتكب كبيرة كمرتكب جريمة الربا ، والربا مُحارب من الله وآكله مطرود من رحمة الله

Artinya: “Memberi pinjaman dan meminta tambahan atas pokoknya (المراباة) diharamkan berdasarkan dalil Al-Kitab, As-Sunah dan Ijma’. Bahkan Rasul SAW melaknat pemakan riba, pemberi riba, penulis, 2 orang saksinya, orang yang minta dihalalkan (المُحلل) dan perantaranya ( المُحلل له). Allah SWT tidak pernah mengancam pelaku dosa besar seperti mengancam kejahatan riba. Riba berarti memerangi Allah SWT dan pemakan riba akan dijauhkan dari rahmat Allah SWT ( Vide: Al-Fatawa Al-Kubra, Ibn Taimiyah, jilid 29/hal. 418-519).

Dalam kesempatan lain, Ibn Taimiyah menegaskan bahwa tidak ada suatu ancaman hukuman atas dosa besar selain syirik yang disebut dalam Al-Qur`an yang lebih dahsyat daripada riba. Kesepakatan ini dinukil juga oleh Al-Mawardi dan An-Nawawi (Vide: Al-Majmu’ 9/294, cetakan Dar Ihya’ At-Turats Al-‘Arabi).

Pendapat Yang Terpilih:

Terkait dengan larangan riba pada ayat diatas, maka pendapat yang paling kuat dan terpilih terkait dengan pengertian riba adalah akad hutang – piutang (akad qardh) dengan tambahan, baik yang dipersyaratkan atau kompensasi dari penangguhan pembayaran hutang, seperti dalam kasus riba qardh atau riba nasi’ah. Pendapat ini yang dipilih oleh sebagian besar ulama salaf, antara lain:

1) Said Ibn Jubair ra.:

Said Ibn Jubair ra. Ketika menafsirkan firman Allah SWT:

” ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ” 

Artinya: “Demikian, karena mereka mengatakan bahwa jual beli seperti riba”.

Tatkala, hutang salah satu diantara mereka telah jatuh tempo atas orang yang berhutang, maka orang yang berhutang berkata kepada pemilik hutang:

زِدْنِي فِي الأَجَلِ، وَأَزِيدُكَ عَلَى مَالِكَ

Artinya: ”berikan tambahan waktu kepada saya, maka saya akan menambahkan sejumlah harta atas pokok hutang”.

فَإِذَا فُعِلَ ذَلِكَ قِيلَ لَهُمْ: هَذَا رِبًا , قَالُوا: سَوَاءٌ عَلَيْنَا أَنْ زِدْنَا فِي أَوَّلِ الْبَيْعِ، أَوْ عِنْدَ مَحِلِّ الْمَالِ فَهُمَا سَوَاءٌ

Artinya: ”Ketika ia melakukan hal itu, maka dikatakan kepada mereka: ini adalah riba. Mereka menjawab: sama saja bagi kami, apakah kami menambahkan pada awal jual beli atau tambahan karena menangguhkan pembayaran hutang. Keduanya adalah sama.

Demikian firman Allah SWT:

” قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا “

Artinya: “mereka mengatakan bahwa jual beli seperti riba”, karena ucapan mereka:

أَنْ زِدْنَا فِي أَوَّلِ الْبَيْعِ، أَوْ عِنْدَ مَحِلِّ الْمَالِ فَهُمَا سَوَاءٌ

Artinya: ”apakah kami menambahkan pada awal jual beli atau tambahan karena menangguhkan pembayaran hutang. Keduanya adalah sama”. (Vide: Tafsir Ibn Abi Hatim, Ibn Abi Hatim Ar-Razii, No. 2937 & 2938 Jilid 2/hal.342, Maktabah Syamilah, http://www.ahlalhdeeth.com, nomer halaman berbeda dengan edisi cetak)

2) Zaid Ibn Aslam ra.:

مالك ، عن زيد بن أسلم ، أنه قال : كان الربا في الجاهلية ، أن يكون للرجل على الرجل الحق إلى أجل . فإذا حل الأجل ، قال : أتقضي أم تربي ؟ فإن قضى ، أخذ . وإلا زاده في حقه ، وأخر عنه في الأجل .

Artinya: ”Imam Malik dari Zaid Ibn Aslam, ia berkata: ”riba pada masa jahiliyah, ketika seorang punya hutang kepada prang lain dengan jangka waktu tertentu. Ketika jatuh tempo, pemilik hutang berkata: anda mau melunasi sekarang atau anda mau riba ? jika penerima pinjaman melunasi, maka ia mengambilnya. Dan penerima pinjaman akan memberi tambahan atas pokok hutang, dan pemilik hutang akan menangguhkan pembayaran hutang”. (Vide: Al-Istidzkar Al-Jami’ Li Madzahib Fuqaha’ Al-Amshar, Yusuf Ibn Abdullah Ibn Muhammad Ibn Abdul Barr (Abu Umar), Kitab Al-Buyu’ – ما جاء في الربا في الدين  no. 1340, Dar Qutaibah – Dar Al-Wa’ie, tahun 1414 H)

3) Imam Mujahid (Murid Sahabat Abdullah Ibn Abbas ra.):

Imam Thabari meriwayatkan dari Imam Mujahid, ia berkata:

”كانوا في الجاهلية يكون للرجل على الرجل الدين فيقول: لك كذا وكذا وتؤخر عني فيؤخر عنه“

Artinya: “Masyarakat pada masa jahiliyah, ketika ada seorang memiliki hutang kepada orang lain, maka orang yang berhutang berkata: “Anda mendapat tambahan atas pokok hutang dengan nilai sekian dan sekian, dan anda harus menunda pembayaran hutangku”. Maka pemilik hutang-pun memberi penangguhan hutang kepadanya.” (Vide: Kitab Jami’ Al-Bayan Fi Tafsir Al-Qur’an, Jilid 3/hal. 67)

4) Imam Qatadah:

أن ربا أهل الجاهلية يبيع الرجل البيع إلى أجل مسمى ، فإذا حل الأجل ولم يكن عند صاحبه قضاء زاده وأخر عنه .

Artinya: ”Sesungguhnya riba yang dilakukan masyarakat jahiliyah, seperti seorang yang menjual barang dengan jangka waktu tertentu. Ketika jatuh tempo, pembeli tidak memiliki sesuatu untuk membayar hutangnya, maka pembeli tersebut memberikan tambahan atas nilai pokok barang. Kemudian penjual memberi tangguh hingga waktu tertentu” (Vide: Darul Mantsur Fi Tafsir Bil Ma’tsur, Imam Suyuti, Jilid 2/hal 240, Maktabah Syamilah, http://www.altafsir.com, nomer halaman berbeda dengan edisi cetak).

5) Imam Abu Ja’far Ath-Thabari:

Berkata Abu Ja’far: Allah SWT menghalalkan keuntungan (الأرباح) dari perniagaan (التجارة ) dan jual beli (الشراء والبيع). Dan Allah SWT mengharamkan riba yaitu

الزيادة التي يزاد رب المال بسبب زيادته غريمه في الأجل ، وتأخيره دينه عليه .

Artinya: “(الزيادة) yang ditambahkan oleh pemilik harta (رب المال), karena orang yang berhutang (غريمه) meminta tambahan waktu/tempo (pent- penundaan pembayaran hutang), dan pemilik harta menangguhkan (pent- memperpanjang) waktu pembayaran hutang kepada orang yang berhutang.”(Vide: Tafsir Ath-Thabari, Muhammad Ibn Jarir Ath-Thabari, Penerbit Dar Al-Ma’arif)

6) Imam Al-Baghawii:

Allah SWT berfirman:

ذلك بأنهم قالوا إنما البيع مثل الربا

Artinya: “Demikian, karena mereka mengatakan bahwa jual beli seperti riba”

Ayat ini turun kepada masyarakat jahiliyah karena ucapan mereka yang menyamakan jual beli dengan riba dan penghalalan mereka atas riba. Masyarakat jahiliyah kala itu, hutang salah satu diantara mereka telah jatuh tempo atas orang yang berhutang, maka orang yang berhutang berkata kepada pemilik hutang:

زدني في الأجل حتى أزيدك في المال فيفعلان ذلك

Artinya: ”berikan tambahan waktu kepada saya, maka saya akan menambahkan sejumlah harta atas pokok hutang. Kedua belah pihak (pemilik hutang dan penerima hutang) bersepakat atas hal ini”

Mereka bersepakat atas hal ini, lalu berkata: tambahan yang diperoleh dari jual beli adalah sama dengan tambahan karena menangguhkan pembayaran hutang. Allah mendustakan ucapan mereka dengan firman-Nya:

وأحل الله البيع وحرم الربا

Artinya: ” Allah SWT telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”. (Vide: Tafsir Baghawii, Imam Husain Ibn Mas’ud Al-Baghawi, Penerbit Dar Thayyibah)

7) Imam Al-Khazin:

 Allah SWT berfirman:

) وأحل الله البيع وحرم الربا ( يعني وأحل الله لكم الأرباح في التجارة بالبيع والشراء وحرم الربا الذي هو زيادة في المال لأجل تأخير الأجل.

Artinya: “Allah SWT telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”, yaitu Allah SWT menghalalkan bagi kalian keuntungan yang diperoleh dari jual beli. Dan Ia telah mengharamkan riba: tambahan atas harta (زيادة في المال ) karena menangguhkan jangka waktu pembayaran hutang”. (Vide: Lubab Al-Takwil Fii Ma’ani Atanziil, Imam Al-Khaazin (Abu Hasan Ali Ibn Muhammad Ibn Ibrahim Ibn Umar Asy-Syaihii), Jilid 1/hal. 311, Maktabah Syamilah,   http://www.altafsir.com,nomer halaman berbeda dengan edisi cetak)

8) Imam Abu Bakar Al-Jashash:

 « إنه معلوم أن ربا الجاهلية إنما كان قرضاً مؤجلاً بزيادة مشروطة . فكانت الزيادة بدلاً من الأجل فأبطله الله تعالى » . .

Artinya: “Sudah dimaklumi bahwa riba jahiliyah adalah pinjaman yang ditangguhkan pembayarannya (قرضاً مؤجلاً), dengan kompensasi tambahan atas pokok hutang yang dipersyaratkan (بزيادة مشروطة). Tambahan ini merupakan pengganti atas penangguhan pembayaran hutang, lalu Allah SWT membatalkan model transaksi seperti ini”. (Vide: Fii Dzilal Al-Qur’an, Sayyid Qutb, Jilid 1/hal. 305, Maktabah Syamilah, http://www.altafsir.com, nomer halaman berbeda dengan edisi cetak)

9) Imam Ar-Razii:

 « إن ربا النسيئة هو الذي كان مشهوراً في الجاهلية . لأن الواحد منهم كان يدفع ماله لغيره إلى أجل ، على أن يأخذ منه كل شهر قدراً معيناً ورأس المال باق بحاله . فإذا حل طالبه برأس ماله ، فإن تعذر عليه الأداء زاده في الحق والأجل » .

Artinya: “Sesungguhnya riba nasiah yang populer di masa jahiliyah. Ketika salah satu diantara mereka memberi hutang kepada yang lain secara tangguh, dimana pemberi hutang akan mengambil setiap bulan tambahan tertentu (قدراً معيناً ) dan pokok hutang tidak berubah. Jika telah jatuh tempo, maka ia akan meminta pokok hutangnya. Jika penerima hutang tidak mampu membayar, maka ia akan meminta tambahan atas pokok hutang (زاده في الحق ) dan menangguhkan jangka waktu pembayaran (والأجل). (Vide: Fii Dzilal Al-Qur’an, Sayyid Qutb, Jilid 1/hal. 305, Maktabah Syamilah, http://www.altafsir.com, nomer halaman berbeda dengan edisi cetak)

10) Imam Muqatil:

Allah SWT berfirman:

وأحل الله البيع وحرم الربا

Artinya: ” Allah SWT telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”.

فكان الرجل إذا حل ماله فطلبه 

tatkala seorang yang telah jatuh tempo hutang atas orang yang berhutang, maka orang yang berhutang berkata:

زدني في الأجل حتى أزيدك في المال فيفعلان ذلك

Artinya: ”berikan tambahan waktu kepada saya, maka saya akan menambahkan sejumlah harta atas pokok hutang. Kedua belah pihak (pemilik hutang dan penerima hutang) bersepakat atas hal ini”.

فإن قيل لهم : إن هذا ربا ، قالوا : سواء زدت فى أول بيع أو فى آخره عند محل المآل ، فهما سواء

Artinya: ”Jika ada yang berkata kepada mereka: ini adalah riba, mereka menjawab: tambahan yang saya berikan pada awal atau pada akhir jual beli jual beli adalah sama dengan tambahan karena menangguhkan pembayaran hutang. Keduanya adalah sama.” (Vide: Tafsir Muqatil, Muqatil Ibn Hayan, Jilid 1/hal. 175, Maktabah Syamilah, http://www.altafsir.com, nomer halaman berbeda dengan edisi cetak)

11) Imam Ibn Zamnin:

Allah SWT berfirman:

ذلك بأنهم قالوا إنما البيع مثل الربا

Artinya: “Demikian, karena mereka mengatakan bahwa jual beli seperti riba”

Aktifitas yang dilakukan pada masa jahiliyah, tatkala hutang salah satu diantara mereka telah jatuh tempo atas orang yang berhutang, maka orang yang berhutang berkata kepada pemilik hutang:

أخرني وأزيدك

Artinya: ”berikan tambahan waktu kepada saya, maka saya akan menambahkan sejumlah harta atas pokok hutang”.

 فكانوا في الإسلام إذا فعلوا ذلك قال لهم المسلمون إن هذا ربا قالوا لا سواء علينا زدنا في أول البيع أو عند محل الأجل

Artinya: ”Ketika mereka di masa Islam, tatkala mereka melakukan riba, maka orang-orang Islam berkata: ini adalah riba. Mereka menjawab: tidak sama bagi kami, tambahan yang kami berikan pada awal atau pada akhir jual beli jual beli adalah sama dengan tambahan karena menangguhkan pembayaran hutang. Allah SWT mendustakan ucapan mereka dengan firman-Nya:

وأحل الله البيع وحرم الربا

Artinya: ” Allah SWT telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”.

(vide: Tafsir Ibn Abi Zamnin, Jilid 1/hal.74, Maktabah Syamilah, nomer halaman berbeda dengan edisi cetak)

12) Al-Hafidz Ibn Abdil Barr:

 وأما الربا الذي ورد به القرآن فهو الزيادة في الأجل ، يكون بإزائه زيادة في الثمن ، وذلك أنهم كانوا يتبايعون بالدين إلى أجل ، فإذا حل الأجل ، قال صاحب المال : إما أن تقضي ، وإما أن تربي ، فحرم الله ذلك في كتابه ، وعلى لسان رسوله ، واجتمعت عليه أمته .

Artinya: ”Adapun riba yang dimaksud dalam Al-Qur’an adalah tambahan atas penundaan pembayaran hutang, adakalanya dengan menambahkan harga barang (pent- ketika jatuh tempo, pembeli tidak bisa melunasi harganya). Orang arab jahiliyah saling berjual beli hutang dengan jangka waktu. Ketika telah jatuh tempo, pemilih hutang berkata: anda mau melunasi hutang sekarang atau anda mau riba ? Maka Allah SWT mengharamkan riba dalam Al-Qur’an, melalui lisan Rasul-Nya dan umat telah bersepakat atas keharamannya”. (Vide: At-Tamhid Lima fil Muwatha’ Min Al-Ma’anii wal Asaanid, Yusuf Ibn Abdullah Ibn Muhammad Ibn Abdul Barr (Abu Umar), jilid 4 – Hadis ke 14 Hadis Zaid Ibn Aslam, Maktabah Ibn Taimiyah)

Syeikh Muhammad Husain Ya’kub menegaskan bahwa pendapat yang paling kuat dan dipilih oleh mayoritas ulama salaf ash-shalih terkait dengan pengertian riba adalah akad hutang – piutang (akad qardh) dengan tambahan, baik yang dipersyaratkan atau kompensasi dari penangguhan pembayaran hutang (الزيادة المشروطة في القروض والديون) (Vide: Nadzariyah Al-Qardh Fii Asy-Syariah Al-islamiyah, Muhammad Husain Ya’kub, bab riba, http://www.yaqob.com).

Adapun terkait dengan larangan riba fadhl ditetapkan oleh dalil-dalil dari sunnah Rasul SAW yang mulia. Hal ini akan dibahas pada pembasan tersendiri dalam makalah ini.

Penjelasan Para Ulama Tentang Keharaman Riba:

1) Imam Ibnu Qudamah:

Di dalam Kitab al-Mughniy, Ibnu Qudamah mengatakan, “Riba diharamkan berdasarkan Kitab, Sunnah, dan Ijma’. Adapun Kitab, pengharamannya didasarkan pada firman Allah swt,”Wa harrama al-riba” (dan Allah swt telah mengharamkan riba) (Al-Baqarah:275) dan ayat-ayat berikutnya. Sedangkan Sunnah; telah diriwayatkan dari Nabi saw bahwasanya beliau bersabda, “Jauhilah oleh kalian 7 perkara yang membinasakan”. Para shahabat bertanya, “Apa itu, Ya Rasulullah?”. Rasulullah saw menjawab, “Menyekutukan Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan haq, memakan riba, memakan harta anak yatim, lari dari peperangan, menuduh wanita-wanita Mukmin yang baik-baik berbuat zina”. Juga didasarkan pada sebuah riwayat, bahwa Nabi saw telah melaknat orang yang memakan riba, wakil, saksi, dan penulisnya”.[HR. Imam Bukhari dan Muslim] … Dan umat Islam telah bersepakat mengenai keharaman riba.”(Vide: Imam Ibnu Qudamah, Al-Mughniy, juz 4, hal. 25)

2) Imam al-Syiraaziy:

Imam al-Syiraaziy di dalam Kitab al-Muhadzdzab menyatakan; riba merupakan perkara yang diharamkan. Keharamannya didasarkan pada firman Allah SWT, “Wa ahall al-Allahu al-bai` wa harrama al-riba” (Allah SWT telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba) [Al-Baqarah: 275], dan juga firman-Nya, “al-ladziina ya`kuluuna al-riba laa yaquumuuna illa yaquumu al-ladziy yatakhabbathuhu al-syaithaan min al-mass” (orang yang memakan riba tidak bisa berdiri, kecuali seperti berdirinya orang yang kerasukan setan)”. [al-Baqarah: 275] …..Ibnu Mas’ud ra. meriwayatkan sebuah hadits, bahwa Rasul SAW melaknat orang yang memakan riba, memberi riba, saksi, dan penulisnya”. [HR. Imam Bukhari dan Muslim] (Vide: Imam al-Syiraaziy, al-Muhadzdzab, juz 1, hal. 270)

3) Imam Ash-Shan’any:

Imam al-Shan’aniy di dalam Kitab Subul al-Salaam mengatakan: seluruh umat telah bersepakat atas haramnya riba secara global. (Vide: Imam al-Shan’aaniy, Subul al-Salaam, juz 3, hal. 36)

4) Ulama Madzhab Syafi’i:

Di dalam Kitab I’aanat al-Thaalibiin disebutkan riba termasuk dosa besar, bahkan termasuk dosa paling besar (min akbar al-kabaair). Demikian, karena Rasulullah SAW telah melaknat orang yang memakan riba, memberi riba, saksi, dan penulisnya. Selain itu, Allah SWT dan Rasul-Nya telah memaklumkan perang terhadap pelaku riba. Di dalam Kitab al-Nihayah dituturkan bahwasanya dosa riba itu lebih besar dibandingkan dosa zina, mencuri, dan minum khamer (Vide: Imam Al-Dimyathiy, I’anat al-Thaalibiin, juz 3, hal. 16). Imam Syarbiniy di dalam Kitab al-Iqna’ juga menyatakan hal yang sama (Vide: Imam Syarbiniy, Kitab al-Iqna’, juz 2, hal. 633). Imam al-Syaukaniy menyatakan; kaum Muslim sepakat bahwa riba termasuk dosa besar. (Vide: Imam Syaukaniy, Sail al-Jiraar, juz 3, hal. 74)

5) Imam Nawawi:

 أجمع المسلمون على تحريم الربا في الجملة وإن اختلفوا في ضابطه وتعاريفه

 Artinya: “kaum Muslim telah sepakat mengenai keharaman riba jahiliyyah secara global, walau mereka berbeda pendapat tentang patokan dan definisi riba. (Vide: Imam Nawawiy, Syarh Shahih Muslim, juz 11, hal. 9)

6) Syeikh Mohammad Ali al-Saayis:

Dalam Tafsiir Ayat Ahkam menyatakan, telah terjadi kesepakatan atas keharaman riba di dalam dua jenis ini (riba nasii’ah dan riba fadlal). Keharaman riba jenis pertama ditetapkan berdasarkan al-Quran; sedangkan keharaman riba jenis kedua ditetapkan berdasarkan hadits shahih (Vide: Mohammad Ali al-Saayis, Tafsiir Ayat al-Ahkaam, juz 1, hal. 162). Abu Ishaq di dalam Kitab al-Mubadda’ menyatakan; keharaman riba telah menjadi konsensus, berdasarkan al-Quran dan Sunnah. (Vide: Abu Ishaq, al-Mubadda’, juz 4, hal. 127)

Definisi Riba  Secara Istilah

Adapun secara istilah, terdapat beberapa pengertian riba, sebagai berikut:

1) Imam Ibnu al-‘Arabiy:

Riba:

كل زيادة لم يقابلها عوض

Artinya: ”semua tambahan yang tidak disertai dengan adanya pertukaran kompensasi”. (Vide: Imam Ibnu al-‘Arabiy, Ahkaam al-Quran, juz 1, hal. 321)

Catatan:

Definisi ini memiliki kelemahan, masih terlalu umum dan belum mencakup pengertian riba menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah. Riba menurut Al-Qur’an adalah tambahan yang dipersyaratkan atas hutang – piutang (riba qardh), sedang riba menurut al-hadits adalah riba yang terjadi pada 6 barang ribawi, tatkala barang ribawi tersebut diperjual belikan secara tangguh, tidak diserah terimakan pada majelis akad, dan tidak setara/semisal (riba fadhal).

2) Imam Suyuthiy dalam Tafsir Jalalain:

Riba adalah

الزيادة في المعاملة بالنقود والمطعومات في القدر أو الأجل

Artinya: ”tambahan dalam aktifitas mu’amalah dengan menggunakan uang (pent- emas & perak), maupun makanan (pent- barang-barang ribawi), baik dalam kadar maupun jangka waktunya”. (Vide: Imam Suyuthiy, Tafsir Jalalain, surat al-Baqarah:275)

Catatan:

Definisi ini memiliki kelemahan, karena hanya mencakup pengertian riba fadhal yaitu riba yang terjadi pada 6 barang ribawi, tatkala barang ribawi tersebut diperjual belikan secara tangguh, tidak diserah terimakan pada majelis akad, dan tidak setara/semisal. Namun, belum mencakup pengertian riba menurut Al-Qur’an, yaitu tambahan yang dipersyaratkan atas hutang – piutang.

3) Imam Sarkhasiy dalam Kitab Al-Mabsuth :

Riba adalah

الفضل الخالي عن العوض المشروط في البيع

Artinya: “kelebihan atau tambahan yang tidak disertai kompensasi yang disyaratkan di dalam jual beli”.

Di dalam jual beli yang halal terjadi pertukaran antara harta dengan harta. Sedangkan jika di dalam jual beli terdapat tambahan (kelebihan) yang tidak disertai kompensasi, maka hal itu bertentangan dengan perkara yang menjadi konsekuensi sebuah jual beli, dan hal semacam itu haram menurut syariat. (Vide: al-Mabsuuth, juz 14/hal. 461; dan Fath al-Qadiir, juz 15/hal. 289)

Catatan:

Definisi ini memiliki kelemahan, karena hanya membahas riba dalam jual beli. Definisi ini lebih mendekati pengertian riba fadhal, yaitu riba yang terjadi pada 6 barang ribawi, tatkala barang ribawi tersebut diperjual belikan secara tangguh, tidak diserah terimakan pada majelis akad, dan tidak setara/semisal. Namun, definisi ini belum mencakup riba menurut Al-Qur’an yaitu tambahan yang dipersyaratkan atas hutang – piutang (riba qardh).

4) Imam Abu Ishaq:

زيادة في شيء مخصوص

Artinya: “kelebihan atau tambahan atas sesuatu yang khusus” (Vide: Mubada’ Fii Syarh Al-Muqni’,  jilid 4/hal. 127, Penerbit Al-Maktab Al-Islamii).

Catatan:

Definisi ini memiliki kelemahan, karena konotasinya terlalu umum. Dalam Islam, tidak semua tambahan terlarang, kecuali tambahan yang dijelaskan oleh syara’ tentang keharamannya, seperti tambahan yang dipersyaratkan dalam hutang piutang (riba qardh) atau tambahan dalam jual beli/pertukaran antara barang ribawi (riba fadhal).

5) Imam Ar-Ramli:                                                                     

Riba adalah

عقد على عوض مخصوص غير معلوم التماثل في معيار الشرع حال العقد ، أو مع تأخير البدلين أو أحدهما

Artinya: “aqad atas sebuah kompensasi tertentu yang tidak diketahui kesesuaiannya dalam timbangan syariat, baik ketika aqad itu berlangsung maupun ketika ada penundaan salah satu barang yang ditukarkan”. (Vide: Kitab Nihayat al-Muhtaaj ila Syarh al-Minhaaj, juz 11, hal. 309; lihat juga Asniy al-Mathaalib, juz 7, hal. 471)

6) Penulis Kitab Hasyiyyah al-Bajairamiy ‘ala al-Khathiib:

Riba adalah

عقد على عوض مخصوص غير معلوم التماثل في معيار الشرع حال العقد ، أو مع تأخير البدلين أو أحدهما

Artinya: “aqad atas sebuah kompensasi tertentu yang tidak diketahui kesesuaiannya dalam timbangan syariat, baik ketika aqad itu berlangsung maupun ketika ada penundaan salah satu barang yang ditukarkan, maupun keduanya”.

7) Imam Asy-Syarbinii Al-Khathib:

 عقد على عوض مخصوص غير معلوم التماثل في معيار الشرع، حالة العقد أو مع تأخير في البدلين أو أحدهما 

Artinya: “aqad atas sebuah kompensasi tertentu yang tidak diketahui kesesuaiannya dalam timbangan syariat, baik ketika aqad itu berlangsung maupun ketika ada penundaan salah satu barang yang ditukarkan, maupun keduanya”. (Vide: Mughni Al-Muhtaj jilid 2/hal. 21, Penerbit Musthafa Al-Halabi, Tahun 1377 H)

Catatan:

Definisi ini yang paling memenuhi kriteria sebuah definisi menurut kaidah ushul fiqh yaitu mencakup seluruh bagian yang didefinikan (جامعا) dan menafikan semua hal yang diluar bagian yang didefisikan (مانعا). Definisi ini juga mencakup pengertian riba menurut al-qur’an yaitu riba qardh atau riba nasi’ah atau riba jahiliyah, serta pengertian riba fadhal atau riba yadd. Walhasil, definisi riba yang terpilih adalah:

 عقد على عوض مخصوص غير معلوم التماثل في معيار الشرع، حالة العقد أو مع تأخير في البدلين أو أحدهما 

Artinya: “aqad atas sebuah kompensasi tertentu yang tidak diketahui kesesuaiannya dalam timbangan syariat, baik ketika aqad itu berlangsung maupun ketika ada penundaan salah satu barang yang ditukarkan, maupun keduanya”.