H.  STATUS HUKUM HADIS DHAIF

Hadits dla’if tidak bisa diamalkan secara mutlak, baik dalam fadlail maupun persoalan yang menyangkut tentang ahkam (hukum syari’ah). Hal tersebut dikhabarkan oleh Ibnu Sayyidin-Naas [vide: Kitab Uyuunul-Atsar] dari Yahya bin Ma’in berkata:

«من لم يكن سَمحاً في الحديث، كان كذّاباً!». قيل له: «وكيف يكون سمحاً؟». قال: «إذا‏شَكَّ في الحديث تركه».‏

Artinya: “Barangsiapa yang tidak mempunyai sikap toleran/lapang dalam hadits, maka ia seorang pendusta”. Dikatakan kepadanya : ”Bagaimana seorang dikatakan sebagai seorang yang toleran/lapang ?”. Maka ia menjawab : ”Apabila ia ragu dalam sebuah hadits, maka ia meninggalkannya”.[Vide: Tahdzibut-Tahdzib jilid 11/hal. 250 – biografi Yahya bin Ma’in)].

Dan pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Al-Arabi. Pendapat ini tampaknya merupakan pendapat Imam Bukhari dan Imam Muslim (berdasarkan kriteria-kriteria yang kita pahami dari keduanya), dan Ibnu Hazm Al-Andalusi. Selain itu, pendapat ini juga merupakan pendapat dari Malik, Syu’bah, Yahya bin Sa’id Al-Qaththaan, Abu Hatim Ar-Razi, Abu Syammah Al-Maqdisi, Ibnu Taimiyyah, Ibnul-Qayyim, Asy-Syaukani, dan jumhur ahli hadits kontemporer. Pendapat ini dibangun atas dasar dalil sabda Nabi SAW :

مَنْ حَدَّثَ عَنِّي بِحَدِيثٍ يُرَى أَنَّهُ كَذِبٌ فَهُوَ أَحَدُ الْكَاذِبِينَ

Artinya: ”Barangsiapa yang menceritakan satu hadits dariku yang diduga bahwa hadits tersebut adalah dusta, maka ia merupakan salah satu di antara pendusta” (HR Ibn Abi Syaibah dari Mughirah Ibn Syu’bah dan Samurah Ibn Jundub ra.).

Ada sejumlah ulama yang berpendapat bahwa hadits dha’if bisa diamalkan secara mutlak. Pendapat ini dinisbatkan kepada Abu Dawud dan Imam Ahmad. Menurut mereka, kedua ulama ini berpendapat bahwa hadits dhaif lebih kuat daripada ra’yu (rasio) perseorangan. Namun klaim ini dibantah oleh Ibnul-Qayyim sebagai berikut :

ليس المراد بالضعيف عنده الباطل ولا المنكر ولا ما في روايته متهم بحيث لا يسوغ الذهاب إليه فالعمل به بل الحديث الضعيف عنده قسيم الصحيح وقسم من أقسام الحسن ولم يكن يقسم الحديث إلى صحيح وحسن وضعيف بل إلى صحيح وضعيف وللضعيف عنده مراتب فإذا لم يجد في الباب أثرا يدفعه ولا قول صاحب ولا إجماعا على خلافه كان العمل به عنده أولى من القياس

Artinya: ”Tidaklah yang beliau (Imam Ahmad) maksudkan hadits dha’if yang bathil, yang munkar, serta bukan riwayat yang mengandung perawi yang tertuduh (muttaham), sekiranya dilarang mengambil dan mengamalkannya; tetapi hadits dha’if menurut beliau adalah bagian dari hadits shahih yang merupakan bagian dari hadits hasan. Beliau tidak membagi hadits menjadi shahih, hasan, dan dha’if; tetapi menjadi shahih dan dha’if. Hadis dha’if menurut beliau terdiri dari beberapa tingkatan. Dan apabila dalam bab yang bersangkutan tidak ada atsar yang menolaknya atau pendapat seorang shahabat atau ijma’ yang berbeda dengannya, maka mengamalkannya lebih utama daripada qiyas (analogi)”.

(Vide: I’lamul-Muwaqqi’in An Rabiil A’lamiin, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah Jilid 1/hal. 31.)

Imam Ahmad tidak akan mengamalkan hadits dla’if kecuali dalam bab yang bersangkutan tidak ada yang lainnya, dan di antara hadits dla’if itu ada yang berkualitas hasan (menurut terminologi ulama sesudahnya).

Penjelasan Ibnul-Qayyim diatas, dinukil oleh Dr. Muhammad Ajaj Al-Khathib dalam rangka untuk membantah pendapat yang menyatakan bahwa Imam Ahmad mendukung penggunaan hadits dha’if secara mutlak. Kemudian Dr. Muhammad Ajaj Al-Khathib menegaskan bahwa: ”Tidak diragukan lagi, bahwa pendapat pertama yang menolak hadis dhaif sebagi hujjah, merupakan pendapat yang paling selamat. Kita memiliki cukup banyak hadits-hadits shahih tentang fadlail, targhib, dan tarhib, yang merupakan sabda Nabi SAW. (Vide: Ushulul Hadits, Dr. Muhammad ’Ajaj Al-Khathib, hal. 253)

Penjelasan Imam Ath-Thahawiy tentang wajibnya menolak hadis dhaif sebagai hujjad dalam masalah hukum dan keimanan:

مَنْ حَدَّثَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدِيثًا بِالظَّنِّ مُحَدِّثًا عَنْهُ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَالْمُحَدِّثُ عَنْهُ بِغَيْرِ الْحَقِّ مُحَدِّثٌ عَنْهُ بِالْبَاطِلِ وَالْمُحَدِّثُ عَنْهُ بِالْبَاطِلِ كَاذِبٌ عَلَيْهِ كَأَحَدِ الْكَاذِبِينَ عَلَيْهِ الدَّاخِلِينَ فِي قَوْلِهِ عَلَيْهِ السَّلَامُ ) مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ ( وَنَعُوذُ بِاَللَّهِ تَعَالَى مِنْ ذَلِكَ .

Artinya: “Barangsiapa yang menceritakan (hadits) dari Rasul SAW dengan dasar dzan (dugaan), berarti ia telah menceritakan (hadits) dari beliau SAW dengan tanpa haq, dan termasuk orang yang menceritakan (hadits) dari beliau dengan cara yang batil. Niscaya ia menjadi salah satu pendusta yang masuk dalam sabda Nabi SAW : “Barangsiapa yang sengaja berdusta atas namaku, hendaklah ia mengambil tempat duduknya di neraka”. (Vide: kitab Musykilul-Aatsar, Imam Ath-Thahawi, jilid 1/hal. 107 – Maktabah Al-Misykah)

 

I- KESIMPULAN:

Berdasarkan hasil kajian diatas, maka dapat disimpulkan beberapa hal terkait hadis ’Kullu Qardhin Jarra Manfa’ah Fahuwa Riba’ sebagai berikut:

1-     Filosofi dari akad qardh (utang piutang) adalah bentuk tolong menolong dan berbuat baik. Jika dipersyaratkan adanya tambahan (pent- berupa uang), ketika pengembalian utang, maka hal itu sudah keluar dari tujuan utama memberikan qardh (yaitu untuk tolong menolong).” (Vide: Al Mughni, Ibnu Qudamah, Jilid 9/hal. 104).

2-     Akad qardh termasuk akad tabaru’ yaitu untuk tujuan non bisnis. Seperti penjelasan Imam Asy Syairazi Asy Syafi’i: “Diriwayatkan dari Abu Ka’ab, Ibnu Mas’ud, dan Ibnu ‘Abbas ra., mereka semua melarang piutang yang di dalamnya terdapat keuntungan. Alasannya, karena utang piutang adalah untuk tujuan tolong menolong (berbuat baik). Jika dipersyaratkan adanya keuntungan, maka akad utang piutang berarti telah keluar dari tujuannya (yaitu untuk tolong menolong).” (Vide: Al Muhadzdzab, Asy Syairazi Asy Syafi’, Jilid 2/hal. 81)

3-     Status hadis ’Kullu Qardhin Jarra Manfa’ah Fahuwa Riba’ adalah sangat lemah (Dhaif jiddan), karena keberadaan perawi bernama Sawwar Ibn Mush’ab yang ditinggalkan dan tidak ditulis hadisnya.

4-     Status hadis mauquf dari sejumlah sahabat seperti Ibn Mas’ud, Ubay Ibn Ka’ab, Abdullah Ibn Salam, Fadhalah Ibn Ubaid ra. dan lainnya, sebagian bernilai sahih dan sebagian lain bernilai dhaif. Mayoritas Ulama menilai hadis mauquf sebagai pendapat sahabat Nabi SAW, adapun yang menjadi hujjah dalam masalah hukum adalah perkataan, perbuatan dan ketetapan sahabat yang dinisbahkan kepada Nabi SAW.

5-     Pendapat sebagian ulama salaf ash-shalih bahwa manfaat yang diperoleh dari qardh adalah riba, merupakan pendapat yang lemah, karena hadis yang dijadikan sebagai dasar adalah hadis yang sangat lemah, bahkan ditinggalkan. Maka pendapat salaf ash-Shalih (sahabat dan generasi yang mengikutinya) yang terpilih bahwa mengambil manfaat dari qardh adalah makruh (dibenci). Pengertian makruh adalah:

مَا يُثَابُ عَلَى تَرْكِهِ امْتِثَالًا, وَلَا يُعَاقَبُ عَلَى فِعْلِهِ

Artinya: : “Sesuatu yang mendapat pahala karena meninggalkannya, dan tidak mendapat dosa/hukuman karena mengerjakannya”

(Vide: Syarh Al-Muhala Ala Al-Waraqat – Bab Ta’rif Al-Makruh, Jalaludin Al-Mahali, dalam http://www.taimiah.org)

Pengertian manfaat disini adalah manfaat yang tidak berbentuk uang, seperti seorang yang berkata: saya pinjamkan uang, jika anda meminjamkan buku kepada saya, atau saya pinjamkan uang, jika anda memperbaiki pintu rumah saya. Maka, status hukum mengambil manfaat yang tidak berbentuk uang (selain tambahan atas pokok hutang) dari akad qardh (hutang – piutang) baik berupa materi atau non materi adalah makruh.

6-      

ألأَصْلُ فِى الْمُعَامَلاَتِ اْلإِبَاحَةُ مَا لَمْ يَدُلَّ دَلِيْلٌ عَلَى تَحْرِيْمِهَا.

Artinya: “Pada dasarnya, segala bentuk mu’amalah boleh dilakukan sepanjang tidak ada dalil yang mengharamkannya.”

Dalil yang digunakan untuk mengharamkan mengambil manfaat dari qardh adalah lemah, maka hukum transaksi ini kembali kepada hukum asal transaksi muamalah bahwa mengambil manfaat yang tidak berbentuk uang (selain tambahan atas pokok hutang) dari akad qardh (hutang – piutang) baik berupa materi atau non materi adalah mubah.

Namun demikian, sebagian besar ulama menilai aktifitas mengambil manfaat yang tidak berbentuk uang (selain tambahan atas pokok hutang) dari akad qardh (hutang – piutang) baik berupa materi atau non materi adalah makruh, karena alasan sebagai berikut:

–          Qardh dikategorikan sebagai akad tabaru’ untuk kepentingan non bisnis dan bertujuan saling tolong menolong.

–          Menutup jalan menuju perkara yang diharamkan (sadd adz-dzariiah) yaitu riba.

7-     Perkara yang dilarang terkait dengan akad qard adalah

a)      Menetapkan syarat berupa tambahan atas pokok qardh (riba jahiliyah/riba qardh) atau menetapkan tambahan atas pokok qardh sebagai kompensasi perpanjangan jangka waktu pelunasan hutang (riba nasi’ah) (Vide: lihat tulisan kami tentang “Tidak Ada Riba Di Bank Syariah ?”)

b)     Mengaitkan jual beli dengan akad qardh (salaf):

عن عَبْد اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-  لاَ يَحِلُّ سَلَفٌ وَبَيْعٌ ….

Artinya: “Dari Abdullah bin ‘Amr, dia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah halal transaksi utang-piutang yang dikaitkan dengan transaksi jual beli, …” (HR. Abu Daud, no. 3506; hadis hasan)

Dalam hadis di atas, terdapat larangan Nabi SAW atas transaksi utang-piutang yang dikaitkan dengan jual beli, yaitu menjual suatu barang, dengan syarat, pembeli akan memberi piutang kepada penjual. Misalnya: Ada orang yang berkata kepada kita, “Juallah bukumu kepadaku, nanti aku akan memberi piutang kepadamu sebanyak seratus ribu rupiah.”

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing kita dalam jalan yang diridhai, serta dijauhkan dari perkara yang dimurkai-Nya. Wallahu a’lam bi shawab.

Lampiran 1: Pohon Sanad

كل قرض جر منفعة فهو ربا

النبي صلي الله عليه و سلم

عليًّ

عمارة الهمداني

سوار بن مصعب

حفص بن حمزة

الحارث بن محمد بن أبي أسامة

Lampiran 2: Pohon Sanad

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ وَجْهٌ مِنْ وُجُوهِ الرِّبَا

فَضَالَّةَ بْنِ عُبَيْدٍ

أَبِى مَرْزُوقٍ التُّجِيبِىِّ

يَزِيدُ بْنُ أَبِى حَبِيب

عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَيَّاشٍ

إِدْرِيسُ بْنُ يَحْيَى

إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُنْقِذٍ

مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ

أَبُو الْعَبَّاسِ محمد بن يعقوب

وَأَبُو سَعِيدِ بْنُ أَبِى عَمْرٍو

أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ