Penjelasan Syeikh Abdullah Ibn Abdurrahman Al-Basam:

Dari Ali ra., ia berkata, Rasul SAW bersabda:

كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِباً

Artinya: “Setiap qardh dengan mengambil manfaat adalah riba”.

Al-Harits Ibn Abi Usamah (Al-haitsami) meriwayatkan hadis ini, didalam sanadnya terdapat perawi yang gugur (وإسنادُهُ ساقِطٌ), maksudnya:

لأَنَّ فِي إسْنَادِهِ سَوَّارَ بْنَ مُصْعَبٍ الْهَمْدَانِيَّ الْمُؤَذِّنَ الأَعْمَى، وَهُوَ مَتْرُوكٌ.

Artinya: karena dalam sanadnya terdapat perawi bernama Sawwar Ibn Mus’ab Al-Hamdani seorang muadzin buta, dan ia adalah perawi yang hadisnya ditinggalkan (وَهُوَ مَتْرُوكٌ).

Status Hadis Ini Adalah Hadis Sangat Lemah Dhaif (ضَعِيفٌ جِدًّا)

Imam Al-Baghawi mengelurkan hadis ini, lalu ia berkata: telah menceritakan kepada kami Sawwar Ibn Mush’ab dari Umarah dari Ali Ibn Abi Thalib ra. secara marfu’. Sanad hadis ini sangat lemah (ضَعِيفٌ جِدًّا),

Imam Ibn Abdil Hadi berkata:

هذا إسنادٌ سَاقِطٌ، وسَوَّارٌ مَتْرُوكُ الحديثِ

Artinya: Dalam sanadnya terdapat perawi yang gugur (هذا إسنادٌ سَاقِطٌ), dimana Sawar adalah ditinggalkan hadisnya.

Umar Al-Mawshilii berkata:

لم يَصِحَّ فيه شَيْءٌ

Artinya: “tidak ada riwayat shahih tentang hal ini”.

Sekalipun hadis ini dhaif, tapi memiliki riwayat pendukung  berupa hadis-hadis mawquf dari Ibn Mas’ud, Ubay Ibn Ka’ab, Abdullah Ibn Salam, Fadhalah Ibn Ubaid ra., serta didukung ijma ulama atas hal ini dan mereka mengamalkan hadis ini.

(http://www.afaqattaiseer.com/vb/showthread.php?t=3145)

 

4)  Syeikh Ijlunii:

1991- Hadis:

كل قرض جر نفعا فهو ربا

Artinya: “Setiap qardh dengan mengambil manfaat adalah riba”.

Al-Harits Ibn Abi Usamah meriwayatkan dalam kitab musnadnya dari Ali ra. secara marfu’. Ia berkata dalam kitab At-Tamyiz: dalam sanadnya terdapat perawi yang gugur (وإسناده ساقط ).

Dan telah popular diucapkan oleh masyarakat hadis: “Setiap qardh dengan mengambil manfaat adalah riba”.

(vide: Kasyf Al-Khafa’ Wa Muzil Al-Ilbas Amma Usytuhira Min Al-Ahadits Alaa Alsinah An-Nasm, jilid 2/hal. 125, Syeikh Al-Ijlunii, Penerbit Dar Ihya’ At-Turats Al-Arabii)

5) Imam Al-Manawii

6336 – ( كل قرض جر منفعة ) إلى المقرض ( فهو ربا ) أي في حكم الربا فيكون عقد القرض باطلا فإذا شرط في عقده ما يجلب نفعا إلى المقرض من نحو زيادة قدر أو صفة بطل

 

Artinya: (Setiap qardh dengan mengambil manfaat) atas peminjam (adalah riba) maksudnya seperti hukum riba, sehingga akad qardh-nya batal, ketika menetapkan syarat dalam akad kepada peminjam dengan sesuatu yang memberikan manfaat, seperti tambahan kadar atau sifat, maka akad tersebut batal.

(Al-Harits) Ibn Abi Usamah dalam musnadnya (dari Ali ra.) amirul mukminin.

 

Imam As-Sakhawi berkata:

إسناده ساقط

Artinya: dalam sanadnya terdapat perawi yang gugur”.

 

Saya (Al-Manawi) berkata:

فيه سوار بن مصعب

Artinya: “Dalam sanadnya terdapat perawi bernama Sawwar Ibn Mush’ab.

 

Imam Adz-Dzahabi berkata:

قال أحمد والدارقطني : متروك

Artinya: Imam Ahmad dan Ad-Daruqutni berkata: bahwa Sawwar Ibn Mush’ah ditinggalkan hadisnya”

(Vide: Faidhul Qadir No. 6336, jilid 5/hal. 28, Zainuddin Abdurrauf Al-Manawii, Penerbit  Al-Maktabah, At-Tijariyah Al-Kubro –Mesir, tahun 1356 H, ta’liq Majid Al-Hamawii; dan Taysir bi Syarh Al-Jami’ Ash-Shaghir, Jilid 2/Hal. 422, Imam Al-Manawii, Penerbit Maktabah Al-Imam Asy-Syafi’I – Riyadh, Tahun 1408 H/1988 M, Cetakan ke 3)

 

6) Syeikh Syamsudin Muhammad Al-Hambalii:

قال أبو الجهضم العلاء بن موسى أبي جمرة حدثنا سوار عن عمارة عن علي ابن أبي طالب قال قال رسول الله كل قرض جر منفعة فهو ربا

Artinya: Telah berkata Abu Al-Jahdham Al-Alaa’ Ibn Musa Abi Hamzah, telah menceritakan kepada kami Sawwar Ibn Amarah dari Ali Ibn Abi Thalib ra., ia berkata, telah bersabdanya Rasul SAW: “setiap qardh dengan mengambil manfaat adalah riba”.

Dalam sanad hadis ini terdapat perawi yang gugur (هذا الإسناد ساقط). Sawwar Ibn Mush’ab adalah ditinggalkan hadisnya (وهو متروك)

(Vide: Tanqih At-Tahqiq Fii Ahadits At-Ta’liq, Jilid 3/hal. 3, Syeikh Syamsudin Muhammad Ibn Ahmad Ibn Abdul Hadi Al-Hambalii, Dar Kutub Al-Ilmiyah Beirut – Lebanon, Tahun 1998, Tahqiq Ayman Shalih Sya’ban)

 

7)  Syeikh Muhammad Ibn Darwis Al-Huut

1094- Hadis:

كل قرض جر منفعة فهو ربا

Artinya: “Setiap qardh dengan mengambil manfaat adalah riba”.

Dalam sanadnya terdapat perawi bernama Sawwar Ibn Mush’ab, dimana ia ditinggalkan hadisnya dan gugur dalam sanad. Sebagian ahli fiqh berargumentasi dengan hadis ini tidak pada tempatnya.

(vide: Asna Al-Muthalib Fii Ahadits Mukhtalafah Al-Maratib, jilid 1/hal. 218, Muhammad Ibn Darwis Ibn Muhammad, Penerbit Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah)

 

8) Syeikh Ahmad Bushairii:

[2937] وقال الحارث بن محمد بن أبي أسامة: ثنا حفص بن حمزة، أبنا سوار بن مصعب، عن عمارة الهمداني قال: سمعت عليًّا يقول: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم -: “كل قرض جر منفعة فهو ربا”.

 

2937- Telah menceritakan kepada kami Hafsh Ibn Hamzah, telah mengabarkan kepada kami Sawwar Ibn Mush’ab dari Umarah Al-Hamdanii, ia berkata saya mendengar dari Ali ra., bahwa Rasul SAW bersabda: “Setiap akad qardh dengan mengambil manfaat adalah riba”.

هذا إسناد ضعيف، لضعف سوار بن مصعب الهمداني

Artinya: Sanad hadis ini lemah (dhaif) karena kelemahan Sawwar Ibn Mush’ab Al-Hamdanii.

 

Hadis ini memiliki riwayat pendukung (شاهد) secara mauquf dari Fadhalah Ibn Ubaid ra., dengan lafadz:

كل قرض جرَّ منفعة فهو وجه من وجوه الربا

Artinya: “Setiab qardh dengan mengambil manfaat adalah salah satu bentuk riba”.

 

Imam Al-Hakim meriwayatkannya dalam kitab Al-Mustadrak Ala Shahihain, Imam Al-Baihaqi dalam kitab Sunan Al-Kubra dengan lafadznya. (Vide: Ittitah Al-Khairah Al-Maharah bi Zawaid Al-Masaniid Al-Asyrah  no. 2937, jilid 3/hal. 115, Ahmad Ibn Abi Bakar Ibn Ismail Al-Bushairii)


9)  Syeikh Muhammad Nashirudin Al-Albani:

a)  9728- Hadis:

كل قرض جر منفعة فهو ربا

Artinya: “Setiap qardh dengan mengambil manfaat adalah riba”.

 

Imam As-Suyuti mentakhrij hadis ini dari Imam Al-Harits dari Ali ra.

 

Syeikh Albani berkata: hadis ini dhaif, lihat hadis no. 4244 dalam kitab Dhaif Al-Jami’.

(Vide: Shahih Wa Dhaif Al-Jami’ Ash-Shaghir Wa Ziyadatuhu, Muhammad Nashirudin Al-Albani, jilid 1/hal. 300, Penerbit Al-Maktab Al-Islamii)

 

b) 1398- Hadis Dhaif :

كل قرض جر منفعة فهو ربا

Artinya: “Setiap qardh dengan mengambil manfaat adalah riba”.

(Vide: Mukhtashar Irwa’ Al-Ghalil Fii Takhrif Ahadis Manar As-Sabiil, jilid 1/ hal. 274, Muhammad Nashirudin Al-Albani, Penerbit Al-Maktab Al-Islamii – Beirut, Tahun 1405 H/1985 M)

 

10)   Penulis Kitab Raudhah Al-Muhaditsin

4124- Dari Ali ra., ia berkata, Rasul SAW bersabda:

كل قرض جر منفعة فهو ربا

Artinya: “Setiap qardh dengan mengambil manfaat adalah riba”.

Berkata Al-Hafidz Ibn Hajar dalam kitab Al-Bulugh Al-Maram (jilid 1/hal. 176), Hadis ini diriwayatkan Al-Harits Ibn Abi Usamah, didalam sanadnya terdapat perawi yang gugur (وإسنادُهُ ساقِطٌ).

Hadis ini memiliki riwayat pendukung yang dhaif (شاهِدٌ ضعيفٌ) yang diriwayatkan Imam Al-Baihaqi dari Fudhalah Ibn Abi Ubaid ra.

Hadis ini memiliki riwayat pendukung lain yang mauquf yang diriwayatkan oleh  Imam Bukhari dari Abdullah Ibn Salamra.

Catatan: berkata Al-Faqii (jilid 1/hal. 176): dalam sanadnya terdapat Sawwar Ibn Mush’ab.

Imam Nasa’i berkata:

متروك

Artinya: ia ditinggalkan hadisnya.

 

Berkata Imam Bukhari:

منكر الحديث

Artinya: hadisnya munkar.

(Vide: Raudhah Al-Muhaditsin, jilid 9/hal 274m dalam Maktabah Syamilah)


E-  PENDAPAT PARA ULAMA SALAF ASH-SHALIH

a)      Mengambil Manfaat Dari Qardh Adalah Makruh

14657 – أخبرنا عبد الرزاق قال أخبرنا معمر عن أيوب عن بن سيرين قال كل قرض جر منفعة فهو مكروه قال معمر وقاله قتادة

14657- Telah mengabarkan kepada kami Abdurrazaq, ia berkata telah mengabarkan kepada kami Mu’amar dari Ayub dari Ibn Siirin, ia berkata: “Setiap qardh dengan mengambil manfaat adalah dibenci (makruh)”, Mu’amar berkata, ini pendapat qatadah.

14659 – أخبرنا عبد الرزاق قال أخبرنا الثوري عن مغيرة عن إبراهيم قال كل قرض جر منفعة فلا خير فيه

14659- Telah mengabarkan kepada kami Abdurrazaq, ia berkata telah mengabarkan kepada kami Ats-Tsaurii dari Mughirah dari Ibrahim An-Nakhai, ia berkata: “Setiap qardh dengan mengambil manfaat adalah riba, maka tidak ada kebaikan atasnya”.

(Vide: Mushanaf Abdurrazaq No. 14.657 – 14.659, jilid 8/hal. 145, Penerbit Al-Maktabah AL-Islamii Beirut – Lebanon, Tahun 1403 H, Tahqiq Habiruhman Al-A’dhami)

20072 – حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الْأَحْمَرُ عَنْ حَجَّاجٍ عَنْ عَطَاءٍ قَالَ : كَانُوا يَكْرَهُونَ كُلَّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar, Telah menceritakan kepada kami Abu Khalid Al-Ahmar dari Hajaj dari Atha’, ia berkata: “mereka (ulama salaf ash-shalih) membenci setiap qardh dengan mengambil manfaat”

(Vide: Mushanaf Ibn Abi Syaibah No. 20.072, Jilid 5 – Kitab Al-Buyu’ Wal Aqdhiyah Bab Man Kariha Kulla Qardhin Jarra Manfaah)

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ إدْرِيسَ عَنْ هِشَامٍ عَنْ الْحَسَنِ وَمُحَمَّدٍ أَنَّهُمَا كَانَا يَكْرَهَانِ كُلَّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً .

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar, Telah menceritakan kepada kami Idris dari Hisyam dari Hasan dan Muhammad, keduanya membenci qardh dengan mengambil manfaat ”.

(Vide: Mushanaf Ibn Abi Syaibah, Jilid 5 – Kitab Al-Buyu’ Wal Aqdhiyah Bab Qardh Jarra Manfaah)

b) Mengambil Manfaat Dari Qardh Adalah Riba:

( 4 )  حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عَوْنٍ عَنْ ابْنِ سِيرِينَ قَالَ : أَقْرَضَ رَجُلٌ رَجُلًا خَمْسَمِائَةِ دِرْهَمٍ وَاشْتَرَطَ عَلَيْهِ ظَهْرَ فَرَسِهِ فَقَالَ : ابْنُ مَسْعُودٍ : مَا أَصَابَ مِنْ ظَهْرِ فَرَسِهِ فَهُوَ رِبًا .

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar, telah menceritakan kepada kami Waki’,  telah menceritakan kepada kami Ibn Aun dari Ibn Siirin, ia berkata: seorang memberi pinjaman kepada fulan sebesar 500 dirham, dan memberi syarat untuk menunggangi kudanya, kemudian ia berkata: Ibn Mas’ud ra. Berkata: manfaat berupa menunggangi kudanya adalah riba.

(Vide: Mushanaf Ibn Abi Syaibah, Jilid 5 – Kitab Al-Buyu’ Wal Aqdhiyah Bab man Kariha Kulla Qardhin Jarra Manfaah)

 

F. PENJELASAN IMAM IBN QUDAMAH:

وَلاَ يَجُوزُ اْلإِقْرَاضُ فِي النَّقْدِ وَغَيْرِهِ (بِشَرْطِ) جَرِّ نَفْعٍ لِلْمُقْرِضِ كَشَرْطِ (رَدِّ صَحِيْحٍ عَنْ مُكَسَّرٍ أَوْ) رَدِّ زِيَادَةٍ) أَوْ رَدِّ جَيِّدٍ عَنْ رَدِئٍ وَيَفْسُدُ بِذَلِكَ الْعَقْدُ عَلَى الصَّحِيْحِ لِحَدِيْثِ {كُلُّ قَرْضٍ يَجُرُّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبًا} وَهُوَ وَإِنْ كَانَ ضَعِيفًا فَقَدْ رَوَى الْبَيْهَقِيُّ مَعْنَاهُ عَنْ جَمْعٍ مِنْ الصَّحَابَةِ وَالْمَعْنَى فِيهِ أَنَّ مَوْضُوْعَ الْعَقْدِ اْلإِرْفَاقُ فَإِذَا شَرَطَ فِيهِ لِنَفْسِهِ حَقًّا خَرَجَ عَنْ مَوْضُوْعِهِ فَمَنَعَ صِحَّتَهُ (وَلَوْ رَدَّ هَكَذَا) أَيْ زَائِدًا فِي الْقَدْرِ أَوْ الصِّفَةِ (بِلاَ شَرْطٍ فَحَسَنٌ بَلْ مُسْتَحَبٌّ لِلْحَدِيْثِ السَّابِقِ )إنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً(وَلاَ يُكْرَهُ لِلْمُقْرِضِ أَخْذُهُ وَلاَ أَخْذُ هَدِيَّةِ الْمُسْتَقْرِضِ بِغَيْرِ شَرْطٍ. قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ وَالتَّنَزُّهُ عَنْهُ أَوْلَى قَبْلَ رَدِّ الْبَدَلِ .وَأَمَّا مَا رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَغَيْرُهُ مِمَّا يَدُلُّ عَلَى الْحُرْمَةِ فَبَعْضُهُ شُرِطَ فِيهِ أَجَلٌ وَبَعْضُهُ مَحْمُولٌ عَلَى اشْتِرَاطِ الْهَدِيَّةِ فِي الْعَقْدِ وَفِي كَرَاهَةِ الْإِقْرَاضِ مِمَّنْ تَعَوَّدَ رَدَّ الزِّيَادَةِ وَجْهَانِ أَوْجُهُهُمَا الْكَرَاهَةُ

Artinya: “Tidak diperbolehkan meminjamkan uang atau pun yang lain dengan menyertakan syarat untuk mengambil manfaat bagi orang yang meminjami. Seperti syarat mengembalikan mata uang emas (dinar) dan mata uang perak (dirham) yang utuh dari pinjaman mata uang emas (dinar) dan perak (dirham) pecahan, atau mengembalikan disertai dengan adanya tambahan, atau mengembalikan dengan barang yang bagus dari pinjaman barang yang telah usang. Akad tersebut menurut pendapat yang shahih menjadi rusak berdasarkan hadits, “Setiap pinjaman yang menarik manfaat adalah riba”. Meskipun hadits tersebut lemah. Hadits terebut diriwayatkan maknanya oleh al-Baihaqi dari sekelompok sahabat. Maksud dari hadits tersebut adalah “pokok pembicaraan dalam akad itu adalah mengambilan manfaat”. Jika seseorang mensyaratkan suatu hak untuk dirinya yang keluar dari pokok akad yang dapat mencegah keabsahan akad, seperti mengembalikan dengan adanya tambahan dalam ukuran atau sifatnya tanpa adanya syarat, maka diperbolehkan bahkan disunahkan menurut hadits yang telah lalu, “Sebaik-baik pinjaman diantara kalian adalah yang paling baik pengembaliannya”. Dan tidak dimakruhkan mengambil tambahan atau hadiah dari orang yang meminjam yang tidak disertai dengan syarat. Al-Mawardi berkata, “Menjauhi hal tersebut lebih utama sebelum pengembalian ganti”. Adapun hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan yang lain, yang menunjukkan pada pengharaman, karena sebagian disyaratkan adanya jangka waktu, dan sebagian lagi memuat syarat adanya hadiah pada saat terjadi akad. Mengenai hukum makruh pinjaman pada orang yang biasanya meminta tambahan (pent- berupa manfaat) terdapat dua pendapat. Kedua-duanya menunjukkan adanya hukum makruh”. (Vide: Mughni al-Muhtaj, Imam Ibn Qudamah, jilid II/hal. 119)

 

G.  STATUS HUKUM HADITS MAUQUF

Secara bahasa :

اسم مفعول من ” الوَقف ” كأن الراوي وقف بالحديث عند الصحابي، ولم يتابع سرد باقي سلسلة الإسناد

Artinya: Mauquf merupakan isim maf’ul dari kata al-waqfu (berhenti), seperti seorang perawi yang menghentikan hadits pada sahabat, dan tidak mengikutkan sisa dari silsilah (mata rantai) sanad.

Secara istilah :

ما أُضِيف إلى الصحابي من قول أو فعل أو تقرير

Artinya: “Sesuatu yang disandarkan kepada sahabat baik berupa perkataan, perbuatan, atau ketetapan”.

Penjelasan Istilah :

أي هو ما نُسِبَ أو أُسْنِدَ إلى صحابي أو جَمْع من الصحابة سواء كان هذا المنسوب إليهم قولا أو فعلا أو تقريراً ، وسواء كان السند إليهم متصلا أو منقطعاً .

Artinya: “Yaitu sesuatu yang dinisbatkan atau disandarkan kepada seorang sahabat atau sejumlah sahabat, baik berupa perkataan, perbuatan, atau ketetapan; dan baik berupa sanad yang sampai kepada mereka itu secara muttashil (bersambung) atau munqathi’ (terputus)”.

Contoh :

1) Mauquf pada perkataan; perkataan rawi : Telah berkata ‘Ali bin Abi Thalib ra.:

حدثوا الناس بما يعرفون ، أتريدون أن يُكَذَّبَ الله ورسولُهُ

Artinya: “Sampaikanlah kepada manusia sesuai dengan yang mereka ketahui. Apakah engkau menginginkan Allah SWT dan Rasul-Nya didustakan ?” 

2) Mauquf pada perbuatan; perkataan Imam Al-Bukhari :

وأَمَّ ابنُ عباس وهو متيمم

Artinya: “Ibnu ‘Abbas ra. mengimami (shalat), dalam keadaan ia bertayamum” 

3) Mauquf taqrir; seperti halnya perkataan sebagian tabi’in :

فعلت كذا أمام أحد الصحابة ولم يُنْكِر عَلَيَّ

Artinya: ”Aku telah melakukan demikian dihadapan salah seorang sahabat, dan beliau tidak mengingkariku”.

(Vide: Taysir Musthalah Al-hadits, Dr Mahmud Thahan, hal. 107-109, Penerbit Dar Al-Fikr )

Syeikh Mahmud Thahan menjelaskan hukum beramal dengan hadis mauquf:

الموقوف ـ كما عرفت ـ قد يكون صحيحاً أو حسناً أو ضعيفاً لكن حتى ولو ثبتت صحته فهل يحتج به ؟ والجواب عن ذلك أن الأصل في الموقوف عدم الاحتجاج به . لأنه أقوال وأفعال صحابة . لكنها أن ثبتت فأنها تقوي بعض الأحاديث الضعيفة ـ كما مر في المرسل ـ لأن حال الصحابة كان هو العمل بالسنة ، وهذا إذا لم يكن له حكم المرفوع ، أما أذا كان من الذي له حكم المرفوع فهو حجة كالمرفوع

 

Artinya: “Hadits mauquf – sebagaimana yang anda diketahui – ada yang bernilai sahih, hasan, atau dha’if. Tetapi, meskipun telah dipastikan status sahihnya, apakah ia dapat digunakan sebagai hujjah ?  Jawabannya adalah bahwa hukum asal dari hadits mauquf adalah tidak bisa dipakai sebagai hujjah. Hal itu disebabkan karena hadits mauquf hanyalah merupakan perkataan atau perbuatan dari shahabat saja. Namun jika hadits tersebut telah tetap, maka hal itu bisa memperkuat sebagian hadits dla’if – sebagaimana telah dibahas pada hadits mursal – karena yang dilakukan oleh shahabat adalah melaksanakan sunnah. Ini apabila hadits mauquf tidak dinilai sebagai hadis marfu’ (marfu’ hukman). Adapun jika hadits mauquf tersebut dinilai sebagai hadis marfu’ (marfu’ hukman), maka ia adalah hujjah sebagaimana hadits marfu’.

(Vide: Taysir Musthalah Al-hadits, Dr Mahmud Thahan, hal. 107-109, Penerbit Dar Al-Fikr )

Dari kajian diatas, tidak ditemukan sebab dan faktor yang dapat digunakan untuk menghukumi riwayat mauquf diatas menjadi hadis marfu. Maka, riwayat mauquf dari sejumlah sahabat seperti dari Abdullah Ibn Mas’ud, Ubay Ibn Ka’ab, Abdullah Ibn Salam, Fadhalah Ibn Ubaid ra. dan lainnya, dinilai sebagai hasil ijtihad sahabat Nabi SAW, dengan syarat bahwa riwayat mauquf tersebut bernilai sahih. Adapun yang dijadikan hujjah adalah perkataan, perbuatan & ketetapan sahabat yang dinisbahkan kepada Rasul SAW. (bersambung)