A-  PENGANTAR:

 

Diskusi tentang fiqih muamalat merupakan topik yang hangat di negeri ini. Salah satu topik yang menarik untuk dikaji dan dibahas adalah terkait dengan isu riba. Para ulama telah bersepakat bahwa setiap tambahan yang dipersyaratkan atas pokok dari hutang adalah riba. Namun terdapat perbedaan pendapat dikalangan para ulama dahulu dan kontemper terkait dengan manfaat yang tidak berupa uang yang diperoleh dari akad hutang – piutang (qardh). Pokok penyebab dari munculnya perbedaan pendapat dalam masalah ini, bermula dari perbedaan penafsiran atas hadis nabi SAW:

 كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبًا

Artinya: “Setiap akad qardh dengan mengambil manfaat adalah riba”.

Terkait dengan topik ini, maka makalah ini ditulis untuk mendapat kejelasan tentang status hadis ini dan penjelasan para ulama tentang kandungan hukumnya.

B-  TAKHRIJ HADIS

1) RIwayat Pertama:

(حديث مرفوع) وَقَالَ  الْحَارِثُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي أُسَامَةَ حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ حَمْزَةَ ، أنا سَوَّارُ بْنُ مُصْعَبٍ ، عَنْ عُمَارَةَ الْهَمْدَانِيِّ ، قَالَ : سَمِعْتُ عَلِيًّا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، يَقُولُ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبًا ” .

Artinya: (hadis marfu’) Telah berkata Al-Harits, telah menceritakan kepada kami Hafsh Ibn Hamzah, telah mengabarkan kepada kami Sawwar Ibn Mush’ab dari Umarah Al-Hamdanii, ia berkata saya mendengar dari Ali ra., bahwa Rasul SAW bersabda: “Setiap akad qardh dengan mengambil manfaat adalah riba”.

(Vide: Al-Mathalib Al-Aliiyah bi Zawaid Al-Masaniid Ats-Tsamaniyah, AL-Hafidz Ibn Hajar Al-Asqalanii, Kitab An-Nawafiil – Abwab Al-Jum’ah)

2) Riwayat Kedua:

حدثنا حفص بن حمزة أنبأ سوار بن مصعب عن عمارة الهمداني قال سمعت عليا يقول قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : كل قرض جر منفعة فهو ربا

Telah menceritakan kepada kami Hafsh Ibn Hamzah, telah mengabarkan kepada kami Sawwar Ibn Mush’ab dari Umarah Al-Hamdanii, ia berkata saya mendengar dari Ali ra., bahwa Rasul SAW bersabda: “Setiap akad qardh dengan mengambil manfaat adalah riba”.

(Vide: Zawa’id Al-Haitsami, No. 437, Jilid 1/hal. 500, Al-harits Ibn Abi Usamah (Al-Hafidz Nurudin Al-Haitsami), Penerbit Markaz Khidmah Al-Sunnah Wal Sirah An-Nabawiyah, Madinah Munawarah, Tahun 1413 H/1992 M, Tahqiq Dr. Husain Ahmad Shalih Al-Bakirii)

3) Riwayat Ketiga:

أخبرنا أبو عبد الله الحافظ وأبو سعيد بن أبي عمرو قالا ثنا أبو العباس محمد بن يعقوب ثنا إبراهيم بن منقذ حدثني إدريس بن يحيى عن عبد الله بن عياش قال حدثني يزيد بن أبي حبيب عن أبي مرزوق التجيبي عن فضالة بن عبيد صاحب النبي صلى الله عليه و سلم أنه قال : كل قرض جر منفعة فهو وجه من وجوه الربا    

Telah mengabarkan kepada kami Abu Abdullah Al-Hafidz, dan Abu Sa’id Ibn Abi Amru, keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Abul Abbas Muhammad Ibn Ya’qub, telah menceritakan kepada kami Ibrahim Ibn Munqidz, telah menceritakan kepadaku Idris Ibn Yahya dari Abdullah Ibn Iyasy, ia berkata telah menceritakan kepadaku Yazid Ibn Abi Habib dari Abi Marzuq At-Tujiibii dari Fadhalah Ibn Ubaid (sahabat Nabi SAW), ia berkata: “Setiap akad qardh (pinjam – meminjam) dengan mengambil manfaat, maka hal itu termasuk salah satu bentuk riba”.

(Vide: Sunan Al-Baihaqi Al-Kubra, Hadis No. 10715, jilid 5/hal, 349-350, Imam Ahmad Ibn Al-Husain Ibn Ali Ibn Musa – Abu Bakar Al-Baihaqi, Maktabah Dar Al-Baz – Makkah Al-Mukarramah, Tahun 1414 H/1994 M, Tahqiq Muhammad Abdul Qadir Atha)

 

C-  STATUS PARA PERAWI HADIS:

1)  Harits Ibn Muhammad

Nama: Harits Ibn Muhammad Ibn Dahir, nama kuniyah Abu Muhammad, lebih dikenal dengan nama Harits Ibn Abi Usamah At-Tamimii, tinggal di baghdad dan wasith, termasuk generasi perawi hadis ke 12.

Penilaian para ulama kritikus hadis (ulama al-jarh wa at-ta’dil):

Ahmad Ibn Kamil Asy-Syajari, Ibrahim Ibn Ishaq Al-Harbii, Ibn Abdil Barr Al-Andalusi, Al-Khatib Al-Baghdadi menyatakan ia terpercaya (ثقة)

Ad-Daruqutni menyatakan ia jujur dan terpercaya (صدوق)

Adz-Dzahabi: Al-Hafidz, jujur, ahli ilmu (العالم)

Abu Al-Fath Al-Azdi berkata: ia perawi lemah (ضعيف)

(http://www.islamweb.net/hadith/RawyDetails.php?RawyID=14244)

 

2)  Hafsh Ibn Hamzah

Namanya Hafsh Ibn Hamzah Adh-Dharir, nama kuniyah Abu Umar, tinggal di kota baghdad, termasuk generasi perawi  hadis ke 10.

Penilaian para ulama kritikus hadis (ulama al-jarh wa at-ta’dil):

Al-Hafidz Ibn Hajar Al-Asaqlani:

صدوق

Artinya: Jujur dan terpercaya

 

Pengarang kitab tahrir Taqrib At-Tahdzib:

مجهول، تفرد بالرواية عنه الحارث بن محمد بن أبي أسامة، ولم يوثقه أحد

Artinya: ia tidak dikenal (majhul), Al-Harits menyendiri dalam meriwayatkan hadis dari Muhammad Ibn Abi Usamah, dan tidak ada seorang ulama-pun yang menilainya tsiqah.

(Vide: http://www.islamweb.net/hadith/RawyDetails.php?RawyID=15476)


3)  Sawwar Ibn Mush’ab

Nama: Sawwar Ibn Mush’ab Al-Hamdani, nama kuniyah: Abu Abdullah. Nasabnya: Al-Kufii & Al-Hamdani, tinggal di kota baghdad dan kufah – Iraq. Aktifitasnya sebagai muadzin masjid. Ia termasuk generasi perawi hadis ke 8.

Penilaian para ulama kritikus hadis (ulama al-jarh wa at-ta’dil):

1- Abu Ahmad Ibn Adi Al-Jurjani:

عامة ما يرويه ليس بمحفوظ وهو ضعيف

Artinya: Secara umum, hadis yang diriwayatkan tidak terjaga, dan ia adalah perawi dhaif

 

2- Abu Bakar Al-bazar

لين الحديث

Artinya: Hadisnya lemah

 

3- Abu Bakar Al-Baihaqi

متروك، ومرة: ضعيف لا يحتج به، وفي كتابه القراءة خلف الإمام والسنن الكبرى وقال: ضعيف

Artinya: Hadisnya ditinggalkan. Ia lemah dan hadisnya tidak dijadikan hujah

 

4- Abu Ja’far Al-Uqaili

لا يتابع على كثير من حديثه

Artinya: Tidak dijadikan hujah, sebagian besar hadisnya.

 

 

5- Abu Hatim Ar-Razi:

متروك الحديث لا يكتب حديثه ذاهب الحديث

Artinya: Hadisnya ditinggalkan, tidak ditulis hadisnya, hadisnya tidak bernilai.

 

6- Abu hatim Ibn Hibban Al-Busti (Abu hatim Ibn Hibban Al-Busti)

كان ممن يأتي بالمناكيرعن المشاهير حتى يسبق إلى القلب أنه كان المتعمد لها

Artinya: Ia termasuk perawi yang kadangkala meriwayatkan hadis mungkar yang populer hingga ia berubah menjadi kebiasaan, hingga penilaian yang terpilih adalah hadisnya mungkar.

 

7- Abu Dawud As-Sijistani

غير ثقة

Artinya: Ia tidak terpercaya

 

8- Abu Abdullah Al-Hakim An-Naisaburii

ليس بالقوي عندهم، ومرة يروي عن عطية العوفي الموضوعات

Artinya: Ia tidak termasuk perawi yang kuat menurut ulama ahli hadis, dan pernah meriwayatkan hadis-hadis palsu dari Athiyah Al-Awfii.

 

9- Abu Nuaim Al-Ashbahanii:

متروك الحديث، الهذلي

Artinya: Hadisnya ditinggalkan, Al-Hudzalii.

 

10- Ahmad Ibn Hambal:

أنكر الرواية عنه، ومرة: ليس بشئ، ومرة: متروك الحديث

Artinya: Imam Ahmad mengingkari hadisnya, hadisnya lemah, dan ditinggalkan hadisnya.

 

11- Imam Ahmad Ibn Syu’ib Nasa’i:

متروك الحديث، ومرة: ليس بثقة ولا يكتب حديثه

Artinya: Hadisnya ditinggalkan, bukan perawi terpercaya dan tidak ditulis hadisnya

 

12- Al-Hafidz Ibn hajar Al-Asqalani

في جزء أبي الجهم عنه مناكير

Artinya: Ia meriwayatkan hadis dalam satu bab – Abi Jahm, serta meriwayatkan hadis-hadis mungkar.

 

13- Ibn Iraq:

متفق على تركه

Artinya: Disepakati untuk ditinggalkan hadisnya

 

14- Imam Ad-Daruqutnii:

متروك الحديث، ومرة: ضعيف، ذكره في الضعفاء والمتروكين

Artinya: Hadisnya ditinggalkan, perawi yang lemah, dan ia memasukkan sawar Ibn Mush’ab dalam kitab para perawi hadis dhaif dan yang ditinggalkan.

 

15- Imam Adz-Dzahabi:

في جزء أبي الجهم عنه مناكير

Artinya; Ia meriwayatkan hadis dalam satu bab – Abi Jahm, serta meriwayatkan hadis-hadis mungkar.

 

16- Ali Ibn Al-Madini:

ضعيف

Artinya: Perawi yang lemah

 

17- Imam Bukhari:

يعد من الكوفيين منكر الحديث

Artinya: Dimasukkan dalam perawi kufah yang meriwayatkan hadis mungkar

 

 

18- Yahya Ibn Ma’in:

من رواية محمد بن عثمان بن أبي شيبة قال: كان ضعيفا، ومن رواية العباس قال: ضعيف ليس بشيء، ومن رواية ابن أبي مريم قال: لم يكن بثقة ولا يكتب حديثه

Artinya: Dari riwayat Muhammad Ibn Utsman Ibn Abi Syaibah, ia berkata: Sawar Ibn Mush’ab adalah perawi lemah (dhaif), dari riwayat Al-Abbas, ia berkata: ia adalah perawi lemah dan hadisnya tidak ada apa-apanya, dari riwayat Ibn Abi Maryam, ia  berkata: ia tidak termasuk perawi yang terpercaya dan tidak ditulis hadisnya.

(http://www.islamweb.net/hadith/RawyDetails.php?RawyID=18979)

 

4)  Umarah Al-Hamdanii

Nama: Umarah Al-Hamdanii, menurut para ulama ahli hadits, ia tidak diketahui identitasnya (مجهول الحال).

(http://www.islamweb.net/hadith/RawyDetails.php?RawyID=44301)

 

Status hadis yang diriwayatkan oleh Ali dari Al-Harits adalah sangat lemah (ضعيف جدا) karena keberadaan Sawwar Ibn Mush’ab dalam sanadnya. Mayoritas ulama kritikus hadis (علماء الجرح و التعديل) menilai Sawwar Ibn Mush’ab sebagai perawi yang lemah dan ditinggalkan hadisnya, serta ada klaim bahwa Sawwar Ibn Mush’ab pernah meriwayatkan hadis-hadis palsu dari Athiyah Al-Awfii, maka pendapat yang terpilih adalah meninggalkan dan tidak menulis hadisnya.

 

D-  Penilaian Para Ulama Ahli Hadits:

 

1)  Al-Hafidz Ibn Hajar Al-Asqalanii:

1227– Hadis:

أن النبي صلى الله عليه و سلم نهى عن قرض جر منفعة

Artinya: “Nabi SAW melarang qardh dengan mengambil manfaat“.

 

Dalam riwayat lain:

كل قرض جر منفعة فهو ربا

Artinya: “Setiap qardh dengan mengambil manfaat adalah riba”.

 

Umar Ibn Badr dalam Kitab Al-Mughni berkata:

لم يصح فيه شيء

Artinya: “Tidak ada riwayat shahih tentang hal ini”.

 

Imam Al-Haramain mengatakan:

إنه صح وتبعه الغزالي

Artinya: riwayat ini shahih dan diikuti oleh Imam Al-Ghazali

 

Al-Harits Ibn Abi Usamah telah meriwayatkan dalam kitab musnadnya hadis dengan riwayat yang pertama (pent- hadis Ali ra.).

 

Dalam sanadnya terdapat perawi bernama Sawwar Ibn Mush’ab dan ia ditinggalkan hadisnya. Imam Al-Baihaqi telah meriwayatkan dalam kitab Al-Ma’rifah dari Fadhalah ra. secara mauquf dengan lafadz:

كل قرض جر منفعة فهو وجه من وجوه الربا

Artinya: Setiap qardh yang memberikan manfaat adalah salah satu bentuk riba”

 

Imam Al-Baihaqi juga meriwayat hadis ini dalam kitab As-Sunan Al-Kubra secara mawquf dari Abdullah Ibn Mas’ud, Ubay Ibn Ka’ab, Abdullah Ibn Salam dan Abdullah Ibn Abbas ra. secara mawquf pula.

(Vide: Talkhis Al-Habiir Fii Ahadits Ar-Rafi’i Al-kabir, Al-Hafidz Ibn hajar Al-Asqalanii, Jilid 3/hal. 34, Al-Madinah Al-Munawarah – Tahun 1384 H, Tahqiq As-Sayid Abdullah Hasyim Al-Yamanii Al-Madanii)


2)  Imam Az-Zaila’ii:

 

Hadis kedua: Dari Ali ra., ia berkata,

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ قَرْضٍ جَرَّ نَفْعًا

Artinya: “Rasul SAW melarang qardh dengan mengambil manfaat”.

 

Saya (Az-Zaila’ii) berkata:

رَوَى الْحَارِثُ بْنُ أَبِي أُسَامَةَ فِي ” مُسْنَدِهِ ” حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ حَمْزَةَ أَنَا سَوَّارُ بْنُ مُصْعَبٍ عَنْ عُمَارَةَ الْهَمْدَانِيِّ ، قَالَ : سَمِعْت عَلِيًّا يَقُولُ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ) كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِبًا (

Artinya: ”Hadis ini diriwayatkan Al-Harits Ibn Abi Usamah dalam kitab musnadnya, telah menceritakan kepada kami Hafsh Ibn Hamzah, telah mengabarkan kepada kami Sawwar Ibn Mush’ab dari Umarah Al-Hamdanii, ia berkata, saya mendengar Ali ra., ia berkata, Rasul SAW bersabda: ” Setiap qardh dengan mengambil manfaat adalah riba”.

 

Terkait dengan jalur riwayat dari Al-Harits Ibn Abi Usamah, maka Abdul Haq menyebutkan hadis ini dalam kitab Ahkamnya dalam Bab Al-Buyuu’. Ia menilai ada cacat dalam sanadnya yaitu pada Sawwar Ibn Mush’ab, dan ia berkata: 

 

إنَّهُ مَتْرُوكٌ

Artinya: Sawar Ibn Mush’ab adala ditinggalkan hadisnya.

 

Abu Jahm meriwayatkan hadis ini dalam satu bagian-nya yang telah dikenal (فِي ” جُزْئِهِ الْمَعْرُوفِ “). Telah menceritakan kepada kami Sawwar Ibn Mush’ab. Penulis kitab At-Tanqih tidak menguatkannya, kecuali dalam satu bagian dari Abu Jahm. Dan ia berkata:

إسْنَادُهُ سَاقِطٌ ، وَسَوَّارٌ مَتْرُوكُ الْحَدِيثِ

Artinya: “Dalam sanadnya ada perawi yang gugur dan Sawwar Ibn Mush’ab adalah ditinggalkan hadisnya”

 

Ibn Abi Syaibah meriwayatkan dalam kitab mushanafnya, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Khalid Al-Ahmar dari hajjaj dari Atha’, ia berkata:

كَانُوا يَكْرَهُونَ كُلَّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً

Artinya: “mereka (ulama salaf) membenci setiap akad qardh dengan mengambil manfaat” .

(vide: Nashb Ar-Rayah Fii Takhrij Ahadits Al-Hidayah, jilid 9/hal. 357, dalam http://www.al-islam.com, dimana halaman berbeda dengan versi cetak).

 

3)  Imam Shan’anii:

 

8/814 Dari Ali ra., ia berkata, Rasul SAW bersabda: ”Setiap qardh yang memberikan manfaat adalah riba”. Hadis ini diriwayatkan Al-Harits Ibn Abi Usamah, didalam sanadnya terdapat perawi yang gugur (وإسنادُهُ ساقِطٌ).

Hadis ini memiliki riwayat pendukung yang dhaif (شاهِدٌ ضعيفٌ) yang diriwayatkan Imam Al-Baihaqi dari Fadhalah Ibn Abi Ubaid ra.

Hadis ini memiliki riwayat pendukung lain yang mauquf yang diriwayatkan oleh  Imam Bukhari dari Abdullah Ibn Salam ra.

(Vide: Subulus Salam, Imam Muhammad Ibn Ismail Al-Amiir Ash-Shan’anii, jilid 4/hal. 225, dalam http://www.al-islam.com, nomer halaman berbeda dengan nomer halaman versi cetak) (bersambung)